Rabu, 13 Mei 2015




COOKIES DAUN KATUK (Sauropus adrogynus L. Merr) SEBAGAI CEMILAN SEHAT UNTUK PENDERITA KWASHIORKOR



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan manusia. Keadaan gizi dikatakan baik bila terdapat keseimbangan dan keserasian antara perkembangan fisik dan perkembangan mental. Tingkat keadaan gizi optimal tercapai bila kebutuhan gizi optimal terpenuhi, yaitu keadaan gizi seseorang dalam suatu masa bukan saja ditentukan oleh konsumsi zat gizi pada saat itu saja, tetapi lebih banyak ditentukan oleh konsumsi zat gizi pada masa lampau, bahkan jauh sebelum masa itu dan itu menentukan status gizi balita di masa dewasa.
Pada tahun 2012, Indonesia tercatat sebagai peringkat kelima Negara kekurangan gizi. Peringkat kelima karena jumlah penduduk Indonesia di urutan ke empat terbesar dunia, jumlah balita yang kekurangan gizi di Indonesia saat ini sekitar 900 ribu jiwa. Jumlah tersebut merupakan 4,5% dari jumlah balita Indonesia, yakni 23 juta jiwa (Kemenkes, 2013).
Tingginya angka anak kekurangan gizi di Indonesia dialami oleh keluarga miskin. Kemiskinan membuat orang tua tidak sanggup memberikan asupan gizi yang cukup terhadap bayi sehingga bayi mengalami kekurangan gizi. Masalah gizi juga dipengaruhi oleh pola asuh dan pemahaman gizi orang tua.
Di Indonesia masalah gizi merupakan masalah yang utama, salah satunya adalah kekurangan energi protein (KKP). Masalah gizi masih cukup rawan di beberapa wilayah di Indonesia, terutama di wilayah pemukiman kumuh di daerah perkotaan, wilayah yang sering dilanda musim kering (NTB dan NTT). Dimana kondisi masyarakat tersebut banyak yang kekurangan gizi, banyak balita dan anak-anak yang terkena gizi buruk karena makanan yang tidak seimbang, terutama dalam hal protein (Nandari, 2014).  
Menurut Part Erna (dalam Eka, 2013:44) anak di bawah usia 5 tahun (balita) merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat, sehingga memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap kg berat badannya. Di Indonesia hampir sepertiga anak pra sekolah menderita KEP (Kekurangan Energi Protein). Menurut Depkes (2013) KEP adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh kebiasaan makan yang tidak cukup mengandung kalori dan protein, sehingga akan menyebabkan terjadinya defisiensi protein kalori atau kekurangan kombinasi keduanya. Protein sangat penting untuk membantu pertumbuhan anak-anak dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Kekurangan protein dapat mengakibatkan beberapa jenis penyakit misalnya saja penyakit kwashiorkor. Menurut Kumar S. (2007) Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein yang rendah.  Ditambahkan Kemenkes (2013) menambahkan kwashiorkor ini merupakan penyakit yang sangat berbahaya bagi perkembangan dan pertumbuhan balita (anak usia 0-5 tahun). Penderita penyakit kwashiorkor memiliki gejala seperti pertumbuhan lambat, edema, gangguan psikomotor, muka bulat seperti bulan, dan lain sebagainya.
Penanganan dini pada kasus kwaskiorkor umumnya memberikan hasil yang baik. Penanganan yang terlambat mungkin dapat memperbaiki status kesehatan anak secara umum, namun anak dapat mengalami gangguan fisik yang permanen dan gangguan intelektualnya (Almatsier dalam Eka, 2013: 46). Upaya-upaya pencegahan yang dilakukan memerlukan sarana dan prasarana kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan penyuluhan gizi ada beberapa cara yaitu dengan pemberian ASI sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang paling baik untuk bayi, ditambahkan dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi tinggi pada umur 6 bulan ke atas, pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan, pemberian imunisasi, penyuluhan tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan usaha pencegahan jangka panjang, dan pemantauan yang teratur pada anak balita di daerah yang endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan (Eryna, 2014: 121).
Penanganan kwaskiorkor dengan memberikan asupan gizi yang cukup dapat diberikan dengan berbagai variasi jenis makanan. sehingga penanggulangan penyakit kwaskiorkor dapat dibuat suatu inovasi baru dalam pembuatan pangan sehat misalnya saja pembuatan cookies dari bahan daun katuk.
Cookies adalah jenis biskuit dari adonan lunak, berkadar lemak tinggi, renyah dan bila dipatahkan penampang potongannya bertekstur kurang padat. Cookies  memiliki  karakteristik  manis, kaya akan lemak dan gula yang dibuat dengan menggunakan cetakan. Choco Cookies merupakan produk cookies yang bertekstur renyah, lembut, rasanya manis (Manlay dalam Kusuma, 2012). Choco  cookies  terbuat  dari  tepung,  margarin,  kuning  telur,  coklat bubuk, baking powder, dan choco chip. Kelebihan dari produk choco cookies adalah  disukai  banyak  orang  dari  semua  kalangan  mulai  dari  anak–anak sampai orang tua, choco cookies dapat bertahan lama karena bahan yang digunakan  banyak  menggunakan  bahan  kering  sehingga  bisa  bertahan  1-6 bulan (Siti Hamidah dalam Tri, 2014: 19).
Daun katuk merupakan jenis tanaman yang banyak digunakan sebebagai bahan untuk memasak sayur. Daun katuk ini terdapat banyak di Indonesia namun banyak orang yang tidak mengetahui manfaat dari tanaman tersebut. Menurut Harbone J.B (dalam Kamalia, 2012) Katuk (Sauropus androgynous) merupakan tanaman sayuran yang banyak terdapat di Asia Tenggara. Kandungan daun Katuk juga kaya akan besi, provitamin A dalam bentuk β-carotene, vitamin C, minyak sayur, protein dan mineral lainnya. Daun katuk tua terkandung air 10,8%, lemak 20,8%, protein kasar, 15.0%, serat kasar 31,2%, abu 12,7%, dan BETN 10.2%.
Hasil penelitian Usman (dalam Kamalia, 2012) menunjukkan bahwa dalam tepung daun katuk mengandung air 12%, abu 8,91%, lemak 26,32%, protein 23,13%, karbohidrat 29,64%, β-carotene (mg/100 g) 165,05 dan energi (kal) 134,10. Katuk mimiliki kandungan yang cukup tinggi bayangkan dalam 100 g daun katuk terkandung: energi 59 kal, protein 6,4 g, lemak 1,0 g, hidrat arang 9,9 g, serat 1,5 g, abu 1,7 g, kalsium 233 mg, fosfor 98 mg, besi 3,5 mg, karoten 10.20 mcg (vitamin A), B, dan C 164 mg, serta air 81 g.
Tingginya kandungan gizi yang terkandung pada daun katuk khususnya protein dan karbohidrat sehingga daun katuk berpotensi dijadikan sebagai salah satu bahan baku pembuatan cookies. Oleh karena itu maka penulis mengambil judul “Cookies Daun Katuk (Sauropus androgynous) Sebagai Cemilan Sehat Penderita Kwashiorkor”.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam karya tulis ini adalah bagaimana cara mengolah daun katuk menjadi cookies sebagai cemilan sehat dalam membantu memenuhi gizi penderita kwashiorkor.
C.    Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan dalam karya tulis ini adalah untuk membuat inovasi makanan berupa cookies daun katun sebagai cemilan sehat dalam membantu memenuhi gizi penderita kwashiorkor.
D.    Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan yang diharapkan penulis yaitu:
1.      Manfaat teoritis
a.       Penulisan karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat memberi manfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan
b.      Penulisan karya tulis ilmiah ini dapat menjadi bahan referensi yang sesuai untuk dilakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan isi karya tulis ini.
2.      Manfaat Praktis
Manfaat praktis yang diharapkan yaitu:
a.       Bagi pemerintah, sebagai bahan masukan untuk solusi kebijakan dalam upaya penanganan pemberantasan gizi buruk di Indonesia.
b.      Bagi masyarakat, sebagai bahan informasi untuk membantu anak penderita kwashiorkor dalam mengobati penyakitnya dan bisa menjadi salah satu peluang usaha di bidang tata boga untuk membuat cookies dari daun katuk.
c.       Bagi Penulis, untuk memberi pengetahuan, sarana mengembangkan kreatifitas, cara berpikir yang luas dan merupakan suatu bentuk latihan dalam hal penulisan karya tulis ilmiah.
  BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Gizi
1.      Tinjauan Umum
Gizi berasal dari Bahasa Arab “Al-Gizzai” artinya makanan dan manfaatnya bagi kesehatan, atau dapat juga diartikan dengan sari makanan yang bermanfaat bagi kesehatan (Ani kurniawan dalam Eka,2008). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) gizi merupakan zat makanan pokok yang diperlukan bagi pertumbuhan dan kesehatan badan. Adapun pengertian gizi menurut Sacharin (dalam Eka, 2008) gizi merupakan makanan, zat makanan dan komponen penyusun makanan, aksi dan interaksi keseimbangan dalam hubungannya dengan kesehatan dan penyakit, yang juga memerlukan pengertian proses bagaimana makanan ditelan, dicerna, diserap, diangkut, digunakan dan dikeluarkan oleh tubuh.
Berdasarkan tiga pendapat di atas dapat dikatakan bahwa gizi merupakan makanan pokok yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Gizi sangat dibutuhkan demi kesehatan tubuh dan zat gizi ini bisa didapatkan dari makanan yang dikonsumsi setiap hari. Menurut Taufiqurrahman (dalam Sugiani, 2011) zat gizi berfungsi untuk mengatur metabolisme tubuh, memelihara dan mengganti jaringan tubuh, mendukung pertumbuhan manusia,, dan berperan aktif dalam mekanisme pertahanan terhadap pengaruh lingkungan di sekitar.
 Menurut Pearson (dalam Kusuma, 2012) zat gizi dapat dikelompokkan menjadi beberapa berdasarkan fungsinya sebagai berikut:
a.       Zat gizi sebagai sumber energi
Zat gizi yang terkandung dalam karbohidrat, lemak dan protein berfungsi menggerakkan tubuh dan proses metabolisme tubuh. Ketiga zat gizi juga akan menghasilkan energi untuk bergerak dan aktivitas fisik, dan metabolisme tubuh. Zat Gisi Sebagai sumber energi bisa anda dapatkan pada jenis makanan: nasi dan jagung (karbohidrat); mentega dan margarin (sumber lemak); daging, ikan, dan telur (sumber protein) (Kusuma, 2012).
b.      Zat gisi untuk memaksimalkan pertumbuhan dan mempertahankan jaringan tubuh
Sumber Zat gizi seperti lemak, protein, mineral dan vitamin. berfungsi membentuk sel-sel pada jaringan tubuh, untuk menggantikan sel-sel tubuh yang rusak dan mempertahankan fungsi organ tubuh yang masih bagus (Kusuma, 2012).
c.       Zat gizi untuk membantu metabolisme
Sumber zat gizi seperti vitamin, protein dan mineral berfungsi mengatur proses metabolism di dalam tubuh (Kusuma, 2012)
2.      Sumber Gizi
 Menurut Lies Suprapti (dalam Kusuma, 2012) pada dasarnya, tubuh membutuhkan bermacam-macam zat makanan, baik berupa zat makanan makro maupun zat makanan mikro. Zat makanan makro atau makronutrien adalah zat-zat makanan yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah banyak. Makronutrien meliputi karbohidrat, protein, dan lemak. Sedangkan zat makanan mikro atau mikronutrien adalah zat yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Mikronutrien meliputi vitamin dan mineral.
a.       Karbohidrat
Merupakan sumber energi utama bagi manusia. Karbohidrat kebanyakan tersimpan di dalam bahan makanan pokok manusia, misalnya padi, jagung, gandum, ubi, singkong, dan sagu. Selain tersimpan di dalam bahan makanan pokok, karbohidrat juga ditemukan dalam bentuk makanan olahan, seperti mie, selai, sirup, roti, dan tepung-tepungan (Kusuma, 2012).
b.      Protein
Merupakan bagian terbesar tubuh setelah air. Diperkirakan, seperlima bagian tubuh adalah protein. Protein berasal dari hewan dan tumbuhan. Protein yang berasal dari hewan disebut protein hewani dan protein yang berasal dari tumbuhan disebut protein nabati. Sumber protein hewani antara lain telur, susu, daging, ikan, dan kerang. Sedangkan sumber protein nabati antara lain kacang-kacangan, terutama kacang kedelai, jagung, dan berbagai jenis sayuran (Kusuma, 2012).
c.       Lemak
Lemak merupakan senyawa organic yang tidak laruut di dalam air. Lemak hanya dapat larut dalam pelarut organic seperti etanol, eter, kloroform, dan benzene. Lemak dapat berasal dari tumbuhan (lemak nabati) dan hewan (lemak hewani). Lemak nabati meliputi minyak kelapa, kelapa sawit, kacang tanah, kacang kedelai, jagung, dan buah avokad. Sedangkan lemak hewani antara lain daging, susu, mentega, krim, keju, dan kuning telur (Kusuma, 2012).
d.      Vitamin
Vitamin merupakan senyawa organic kompleks esensial yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil. Berdasarkan sifat kelarutannya, vitamin dapat dibedakan atas dua kelompok, yaitu vitamin larut dalam lemak dan vitamin larut dalam air. Vitamin terdiri atas vitamin A, B, C, D, E, dan K. vitamin banyak terdapat pada sayuran dan buah-buahan (Kusuma, 2012).
e.       Mineral
Mineral merupakan senyawa anorganik yang diperlukan dalam pemeliharaan fungsi tubuh. Mineral dapat dibedakan atas mineral mikro dan mineral makro. Mineral makro adalah mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah lebih dari 100 mg perhari. Sedangkan mineral mikro adalah mineral yang dibutuhkan kurang dari 100 mg. tubuh mengandung lebih 5 gram untuk setiap mineral makro dan kurang dari 5 gram untuk setiap mineral mikro (Kusuma, 2012).
3.      Status Gizi Anak
Menurut Muniz (dalam Nandari, 2014) salah satu indikator kesehatan yang dinilai pencapaiannya dalam MGDs adalah satus gizi balita. Status gizi balita diukur berdasarkan umur, berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Indikator status gizi berdasarkan indeks BB/U memberikan indikasi masalah gizi secara umum. Indikator ini tidak memberikan indikasi tentang masalah gizi yang sifatnya kronis karena berat badan berkolerasi positif dengan umur dan tinggi badan.
Menurut Riskesdas (Riset kesehatan dasar) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada tahun 2013, terdapat 19,6% balita kekurangan gizi yang terdiri dari 5,7% balita dengan gizi buruk dan 13,9% berstatus gizi kurang serta sebesar 4,5% balita yang gizi lebih. Jika dibandingkan dengan angka prevalensi nasional tahun 2010 (17,9%), pravalensi kekurangan gizi pada balita tahun 2013 terlihat meningkat. Balita kekurangan gizi tahun 2010 terdiri dari 13,0% balita berstatus gizi kurang dan 4,9% berstatus gizi buruk. Perubahan terutama pada pravalensi gizi buruk yaitu dari 4,9% pada tahun 2010 dan 5,7 tahun 2013.
Gambaran kekurangan gizi pada balita tahun 2013 terdapat pada gambar berikut ini.
Grafik 2.1 Persentase balita kekurangan gizi berdasarkan berat badan menurut umur BB/U menurut provinsi, Riskesdas tahun 2013 
Di antara 33 provinsi di Indonesia, 19 provinsi pravalensi balita kekurangan gizi di atas angka pravalensi nasional yaitu berkisar 19,7% sampai 33,1%. Dari gambar terlihat ada bahwa proporsi tertinggi balita gizi buruk dan kurang terdapat pada daerah Nusa Tenggara Timur (33%). Sedangkan proporsi terendah Gizi buruk pada provinsi Bali (13,2%).
Indikator gizi lain yaitu tinggi badan menurut umur (TB/U) memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya kronis sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama. Indikator status gizi berdasarkan indeks BB/TB memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari peristiwa yang terjadi dalam waktu yang tidak lama. Menurut Riskesdas (Riset kesehatan dasar) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada tahun 2013 terdapat 37,2% balita dengan tinggi badan di bawah normal yang terdiri dari 18,0% balita sangat pendek dan 19,2% balita pendek. Dibandingkan tahun 2010, terjadi peningkatan persentase balita pendek dan sangat pendek menunjukkan penurunan, dari 18,8% tahun 2007 dan 18,5% tahun 2010.
Berdasarkan hasil Riskesdas Kemenkes tahun 2013 menurut provinsi, prevalensi balita pendek terendah terjadi di Kepulauan Riau (26,3), Di Yogyakarta (27,3%), DKI Jakarta (27,5%). Sedangkan provinsi dengan prevalensi balita pendek tertinggi di Nusa Tenggara Timur (51,7%), Sulawesi barat (48,0%), dan Nusa Tenggara Barat (45,2%).
Masalah kesehatan masyarakat dianggap berat bila prevalensi pendek sebesar 30-39% dan serius bila prevalensi pendek ≥40% (WHO 2010). Sebanyak 13 provini termasuk kategori berat dan sebanyak 15 provinsi termasuk kategori serius. Ke 15 provinsi tersebut adalah: Papua (40,1%), Maluku (40,6%), Sulawesi Selatan (40,9%), Sulawesi Tengah (41,0%), Maluku Utara (41,1%), Kalimantan Tengah (41,3%), Aceh (41,5%), Sumatera Utara (42,5%), Sulawesi Tenggara (42,6%), Lampung (42,6%), Kalimantan Selatan (44,2%), Papua Barat (44,7%), Nusa Tenggara Barat (45,2%), Sulawesi Barat (48,0%), dan Nusa Tenggara Timur (51,7%).
Indikator antropometri lain untuk menilai status gizi balita yaitu berat badan menuurt tinggi badan (BB/TB). Pada tahun 2013 12,1% balita wasting (kurus) yang terdiri dari 6,8% balita kurus dan 5,3% sangat kurus. Angka ini menurun dibandingkan tahun 2010 dnegan persentase 13,3%. Prevalensi sangat kurus secara nasional tahun 2013 masih cukup tinggi yaitu 5,3% terdapat penurunan dibandingkan tahun 2010 (6,0%). Demikian pula halnya dengan pravalensi kurus sebesar 6,8% juga menunjukkan adanya penurunan dari 7,3% (tahun 2010).
Masalah kesehatan Masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kurus anatra 10,0% sampai 14,0% dan dianggap kritis bila ≥15,0% (WHO 2010). Pada tahun 2013, secara nasional prevalensi kurus pada anak balita masih 12,2%, yang artinya masalah kurus di Indonesi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Diantara 33 provinsi, terdapat 23 provinsi termasuk kategori serius, dan 6 provinsi termasuk kategori kritis, yaitu Kalimantan Barat, Maluku, Aceh dan Riau.
B.     Kwashiorkor
Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein yang rendah (Kumar, S. 2007). Menurut Sri Sugiani (2011) kwashiorkor merupakan penyakit yang disebabkan kekurangan protein dan kalori, ditemukan pada anak berusia 6 bulan sampai 4 tahun. Pertumbuhan selama 4 tahun pada anak sangat cepat, sehingga anak-anak tersebut lebih banyak memerlukan kalori dan protein dan bila kekurangan dapat menimbulkan terjadinya kwashiorkor.  Kemudian menurut Isnani Nurhayati, SKM (2014) menyatakan bahwa “Kwashiorkor merupakan MEP berat yang disebabkan oleh defisiensi protein”. Jadi berdasarkan ketiga pendapat di atas dapat diketahui bahwa kwashiorkor merupakan suatu penyakit akibat kekurangan asupan protein yang menyerang anak-anak usia 6 bulan sampai 4 tahun.
Gambar 2.1 Penderita kwaskiorkor (Alfarizi, 2011)
Penyakit kwashiorkor pada umumnya terjadi pada anak dari keluarga dengan status ekonomi rendah karena tidak mampu menyediakan makanan yang cukup mengandung protein hewani seperti daging, telur, hati, susu, dan sebagainya. Makanan sumber protein sebenarnya dapat dipenuhi dari protein nabati dalam kacang-kacangan tetapi karena kurangnya pengetahuan orang tua, anak dapat menderita defisiensi protein (Isnani, 2014). Menurut soetjiningsih (1998) dalam Isnani (2014:1) secara klinik gambaran penderita kwashiorkor adalah sebagai berikut:
1.      Pertumbuhan terganggu (berat badan dan tinggi badan kurang dari standar)
a.       Perkiraan berat badan (kg)
1)      Lahir 3,25
2)      3-12 bulan (bulan +9)/2
3)      11-6 tahun (tahun × 2) + 8
4)      6-12 tahun ((tahun × 7) – 5) / 2
b.      Perkiraan tinggi badan (Cm)
1)      1 tahun 1,5 × TB lahir
2)      4 tahun 2 × TB lahir
3)      6 tahun 1,5 × TB 1 tahun
4)      13 tahun 3 × TB lahir
5)      Dewasa 3,5 × TB lahir = 2 × TB 2 tahun
2.      Perubahan mental (cegeng atau apatis)
3.      Edema, yang dapat terjadi di seluruh tubuh, wajah sembab dan membulat, mata sayu, rambut tipis, kemerahan seperti rambut jagung, mudah dicabut dan rontok, pembesaran hati, otot mengecil (hipotrofil), bercak merah kecoklatan di kulit dan mudah terkelupas (crazy pavement dermatosis), sering disertai penyakit infeksi terutama akut, diare, dan anemia. Pada sebagian besar anak ditemukan edema ringan sampai berat.
4.      Kulit kering, bersisik, hiperpigmentasi dan sering ditemukan gambaran crazy pavement dermatosis.
C.    Daun Katuk
1.      Defenisi Katuk
 Katuk (Sauropus androgynous) merupkan tanaman sayuran yang banyak terdapat di Asia Tenggara. Tumbuhan ini dalam beberapa Bahasa dikenali sebagai  mani cai (Bahasa Cina), cekur manis (Bahasa Melayu), dan rau ngot (Bahasa Vietnam), di Indonesia masyarakat Minangkabau menyebut katuk dengan nama simani. Selain menyebut katuk, masyarakat Jawa juga menyebutnya katuan atau babing. Sementara itu masyarakat Madura menyebutnya kerakur dan orang Bali lebih mengenalnya dengan kayu manis. Tanaman katuk sesungguhnya sudah dikenal nenek moyang kita sejak abad ke-16 (Wiarto, 2008).
Gambar 2.2 Tanaman katuk (Endah, 2011)
Katuk termasuk tanaman jenis perdu dengan ketinggian 3,5 meter. Batangnya tumbuh tegak dan berkayu. Jika ujung batang dipangkas, akan tumbuh tunas-tunas baru yang membentuk percabangan. Daunnya kecil-kecil mirip daun kelor, berwarna hijau. Katuk termasuk tanaman yang rajin berbunga. Bunganya kecil-kecil berwarna merah gelap sampai kekuning-kuningan, dengan bintikbintik merah. Bunga tersebut akan menghasilkan buah berwarna putih yang di dalamnya terdapat biji berwarna hitam (Wiarto, 2008). Selain itu menurut Wiarto (2008) tanaman katuk diklasifikasikan sebagai:
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Malpighiales
Famili              : Phyllanthaceae
Genus              : Sauropus
Spesies : Sauropus androgynous
2.      Morfologi Daun Katuk
a.       Batang
Tanaman katuk merupakan tanaman sejenis tanaman perdu yang tumbuh menahun. Sosoknya berkesan ramping sehingga sering ditanam sebagai tanaman pagar. Tingginya sekitar 3-5 meter dengan batang tumbuh tgeak, berkayu, dan bercabang jarang. Batangnya berwarna hijau saat masih muda dan menjadi kelabu keputihan saat sudah tua.
b.      Daun
Daun katuk merupakan daun genap, berukuran kecil, berwarna hijau gelap dengan panjang 5-6 cm. Kandungan zat besi pada daun katuk lebih tinggi daripada daun papaya dan daun singkong. Daun katuk juga kaya vitamin (A, B1, dan C­), protein, lemak, danm mineral (Wiarto, 2008).
c.       Bunga
Katuk merupakan tanaman yang rajin berbunga. Bunganya kecil-kecil berwarna merah gelap sampai kekuning-kuningan, dengan bitnik-bintik merah. Bunga tersebut menghasilkan buah berwarna putih yang di dalamnya terdapat biji berwarna hitam (Wiarto, 2008).

d.      Buah
Buah katuk tersebut bulat, berukuran kecil-kecil seperti kancing, berwarna putih dan berbiji 3 buah (Wiarto, 2008).
e.       Akar
Tanaman katuk berakar tunggang dan berwarna putih kotor (Wiarto, 2008).
f.       Perkembangbiakan tanaman katuk
Cara perbanyakannya melalui stek batang yang belum terlalu tua. Pananamannya dapat dilakukan dipekarangan sebagai pagar hidup. Bila produksi daunnya tinggal sedikit, tanaman katuk dapat diremajakan dengan cara batang utamanya dipangkas (Wiarto, 2008).
g.      Kandungan gizi daun katuk
Kandungan gizi daun katuk tersaji pada tabel 1.
Tabel 1. Kandungan zat gizi pada katuk per 100 g
No
Kandungan Zat (Satuan)
Kadar 1*
Kadar 2**
1.       
Energi (kkal)
59
53
2.       
Protein (g)
6,4
5,3
3.       
Lemak (g)
1,0
0,9
4.       
Karbohidrat (g)
9,9-11,0
9,1
5.       
Serat (g)
1,5
1,2
6.       
Abu (g)
1,7
1,4
7.       
Kalsium (mg)
204
185
8.       
Fosfor (mg)
83
102
9.       
Besi (mg)
2,7-3,5
3,1
10.   
Vitamin C (mg)
164-239
66
11.   
-Karoten ( g)
10,02
9000
12.   
Air (g)
81
83,3
Keterangan:
* Kandungan zat gizi pada daun katuk per 100 g menurut (Wiarto,2014).
** Kandungan zat gizi pada daun katuk per 100 g menurut DEPKES.
Selain zat gizi di atas, daun katuk juga mengandung senyawa metabolik sekunder yaitu monomethyl succinate dan cis-2-methyl pyroglutamate (alkaloid), Saponin, flavonoid dan tanin. Senyawa-senyawa tersebut sangat penting dalam metabolisme lemak, karbohidrat dan protein dalam tubuh (Kamila, 2012).
3.      Kandungan Zat
Hasil analisis GCMS pada ekstrak heksana menunjukkan adanya beberapa senyawa alifatik. Pada ekstrak eter terdapat komponen utama yang meliputi: monometil suksinat, asam benzoate dan asam 2-fenilmalonat, serta komponen minor meliputi: terbutol 2-propagiloksan, 4H-piran-4-on, 2-metoksi-6 metil, 3-peten-2-on, 3-(2-furanil). Dan asam palmiat. Pada ekstrak etil asetat terdapat komponen utama yang meliputi: sis-2-metil-siklopentanol asetat. Kandungan daun katuk meliputi protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B, dan C, pirolidinon, dan metil piroglutamat serta p-dodesilfenol sebagai komponen minor (Wiarto, 2014).
Dalam 100 g daun katuk terkandung: energi 59 kal, protein 6,4 g, lemak 1,0 g, hidrat arang 9,9 g, serat 1,5 g, abu 1,7 g, kalsium 233 mg, fosfor 98 mg, besi 3,5 mg, karoten 10020 mcg (vitamin A), B, dan C 164 mg, serta air 81 g. tanaman katuk dapat meningkatkan produksi ASI diduga berdasarkan efek hormonal dari kandungan kimia sterol yang bersifat estrogenic. Pada penelitian tersebut daun katuk mengandung efedrin (Wiarto, 2014).
4.      Efek Farmakologis
Daun katuk berkhasiat memperbanyak air susu, untuk demam, bisul, borok dan darah kotor. Tiga penelitian menyetakan infus daun katuk dapat meningkatkan produksi air susu pada mencit. Infus daun katuk dapat meningkatkan jumlah asini tiap lobules kelenjar susu mencit. Satu penelitian menyatakan isolate fase eter dan ekstrak petroleum eter daun katuk tidak menyebabkan peningkatan sekresi air susu yang bermakna. Satu penelitian menyatakan bahwa dekok akar katuk efek antipiretik terhadap burung merpati (Wiarto, 2014).
Infus akar katuk mempunyai diuretic dengan dosis 72 mg/100 g bb. Konsumsi sayur katuk oleh ibu menyusui dapat memperlama waktu menyusui bayi perempuan secara nyata dan untuk bayi pria hanya meningkatkan frekuensi dan lama menyusui. Proses perebusan daun kauk dapat menghilangkan sifat anti protozoa. Pemberian infus daun katuk kadar 20%, 40%, dan 80% pada mencit selama periode organogenesis tidak menyebabkan cacat bawaan (teratogenik) dan tidak menyebabkan resorbsi. Jus daun katuk mentah dugunakan sebagai pelangsing di Taiwan (Wiarto, 2014).
5.      Efek Samping
Di Taiwan 44 orang mengkonsumsi jus daun katuk mentah (150 g) selama 2 minggu sampai 7 bulan, terjadi efek samping dengan gejala sukar tidur, tidak enak makan dan sesak nafas. Gejala hilang setelah 40-44 hari menghentikan konsumsi jus daun katuk. Hasil biopsi dari 12 pasien menunjukkan bronkiolitis obliterasi. Sejumlah 178 pasien mengkonsumsi jus katuk mentah dengan dosis 150 g/hari (60,7%), digoreng (16,9%), campuran (20,8%), dan digodok (1,7%) selama 7 bulan sampai 24 bulan. Terdapat efek samping setelah penggunaan 7 bulan berupa gejala obstruksi bronkiolitis sedang sampai parah. Sedangkan mengkonsumsi selama 22 bulan atau lebih menyebabkan gejala bronkiolitis obliterasi yang permanen (Wiarto, 2014).
Di Amerika, sejak tahun 1995 daun katuk goreng, salad daun katuk, dan minuman banyak dikonsumsi oleh masyarakat sebagai obat antiobesitas (pelangsing tubuh). Penelitian dilakukan terhadap 115 kasus bronkiolitis obliterasi (110 perempuan dan 5 pria), berumur antara 22-66 tahun yang sebelumnya mengkonsumsi daun katuk. Pada uji fungsi paru terlihat obstruksi sedang sampai parah. Pengobatan dengan campuran kortikosteroid, bronkodilatasi, eritromisin, dan zat imunosupresi hampir tidak berkhasiat. Setelah 2 tahun bronkiolitis obliterasi berkembang menjadi parah dan terjadi kematian pada 6 pasien (6,1%) (Wiarto, 2014).
Proses perebusan daun katuk dapat menghilangkan sifat anti protozoa. Jadi dapat disimpulkan pemanasan dapat mengurangi sampai meniadakan sifat racun daun katuk.
D.    Cookies
1.      Pengertian cookies
Menurut Manlay (2000) dalam Hestisa (2012) Cookies adalah jenis biskuit dari adonan lunak, berkadar lemak tinggi, renyah dan bila dipatahkan penampang potongannya bertekstur kurang padat. Syarat mutu cookies di Indonesia tentunya mengacu pada syarat mutu biscuit. Menurut Matz (1978) dalam Hestisa (2012) syarat mutu biskuit yang berlaku saat ini adalah Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-2973-1992, seperti tercantum dalam tabel 2.1. bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan cookies terbagi dalam dua bagian yaitu bahan pengikat dan bahan pelembut tekstur. Bahan-bahan yang berfungsi sebagai pengikat atau bahan pembentuk adonan adalah tepung, susu, dan putih telur. Sedanngkan bahan yang berfungsi sebagai pelembut adalah gula, kuning telur, shortening, dan bahan pengembang.
Tabel 2.1 Syarat mutu biskuit menurut SNI 01-2973-1992
Kriteria Ujia
Syarat
Energi (kkal//100g)
Minimum 400
Air (%)
Maksimum 5
Protein (%)
Minimum 9
Lemak (%)
Minimum 9,5
Karbohidrat (%)
Minimum 30
Abu (%)
Maksimum 70
Serat Kasar (%)
Maksimum 0,5
Logam Berbahaya
Negatif
Bau dan Rasa
Normal dan tidak tengik
Warna
Normal
2.      Bahan Dasar Cookies
a.       Tepung terigu
Tepung terigu  adalah tepung atau bubuk halus yang berasal dari bulir gandum,dan  digunakan  sebagai bahan dasar pembuatan  kue, mi dan roti. Tepung terigu juga mengandung protein dalam bentuk gluten, yang berperan  dalam  menentukan  kekenyalan  makanan  yang  terbuat dari  bahan  terigu (Kamalia, 2012).
b.      Gula
Gula sebagai bahan pemanis. Gula yang digunakan untuk membuat  kue  adalah  gula   halus  atau  gula  pasir  dengan  butir-butir halus  agar  susunan  kue  rata  dan  empuk.  Gula  ini  dapat  digunakan untuk teknik membuat cookies.  Fungsi gula yaitu mematangkan dan mengempukan susunan sel dalam hal ini mengempukan protein tepung . Juga memberi kerak yang diinginkan yang mulai terbentuk pada waktu temperatur rendah, dalam hal ini proses karamelisasi. Membantu dalam menjaga kualitas produk. Jumlah gula dalam formula tinggi maka menjadikan hasil kue kurang baik (Kamalia, 2012).
c.       Margarin
Margarin disebut juga oleomargarine, butter, dan lardine. Margarin  dibuat  dari  minyak  tumbuh-tumbuhan  dengan  cream  dari susu  yang  dijernihkan  kemudian  diaduk,  deberi  bahan  perasa  dan warna.  Campuran  ini  kemudian  dipisahkan,  didinginkan  dan dibungkus atau dikalengkan. Minyak tumbuh-tumbuhan  yang dipakai antara laian minyak kelapa, minyak biji matahari, biji kapas atau dari kedelai. Pada waktu proses pembuatan margarin ada beberapa penambahan vitamin yaitu vitamin A dan vitamin D (Kamalia, 2012).
d.      Lemak
Lemak dapat dibedakan menjadi dua yaitu lemak hewani (mentega) dan lemak nabati (margarin). Lemak yang akan digunakan harus disimpan  pada suhu ruang.  Lemak tidak dapat larut ke dalam bahan cair adonan.Untuk itu, agar lemak dapat stabil ke dalam adonan maka kremkan lemak dan gula secara bersama-sama. Lemak berfungsi untuk menghalangi pembentukan gluten. Penggunaan lemak dapat menghasilkan cookies (kue kering) yang empuk dan tahan lama (Kamalia, 2012).
e.       Telur
Telur merupakan  yang mesti ada dalam pembuatan  kue   cake. Telur bersama tepung membentuk kerangka atau struktur (proteinnya) cake, selain itu telur juga menyumbangkan  kelembaban  (mengandung 75%  air  dan  25%  solid)   sehingga   cake   menjadi   empuk,   aroma, penambah rasa, peningkatan gizi, pengembabangan atau peningkatan volume serta pempengaruhi warna dari cake. Licitin dalam kuning telur mempunyai daya emulsi sedangkan lutein dapat membangkitkan warna pada hasil produk. Telur yang digunakan adalah telur yang segar (pH 7–7,5),  tidak  dalam  kondisi  dingin,  tidak  rusak  atau  pecah  sebelum dipakai.   Sebelum   digunakan   telur dikocok   terlebih   dahulu. Telur berfungsi sebagai pembentuk kerangka, kebasahan, aroma, warna, kualitas cake. Kuning telur adalah  bagian yang lebih padat  dan  terkandung  di  dalamnya  hampir  semua  fat dari telur  itu. Kuning telur mengandung  lechitin,  ini  berfungsi  sebagai  emulsifier (Kamalia, 2012).
f.       Susu
Susu dapat memiliki fungsi untuk menambah gizi, membangkitkan    rasa,   aroma   dan   mampu   menjaga   cairan   dan membantu  mengontrol  kerak.  Gula  susu  akan  terkaramelisasi  pada suhu rendah dan memberikan warna kerak yang diinginkan. Dan efek pengikat yang ada pada protein tepung bersama-sama  bahan padatan susu akan membentuk  struktur produk cookies.  Air yang ada dalam susu cair menimbulkan rasa yang lezat (Kamalia, 2012).
g.      Ovalet
Ovalet merupakan suatu bahan pengembangan atau emulsifier. Fungsi   emulsifier/pengembang   adalah   membentuk   emulsi   atau campuran atara gula dengan telur sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.  Sebetulnya  kuning  telur  mengandung   emulsifier  alami,  oleh karena  itu resep  kue  zaman  dahulu  seperti  kue  lapis  legit  dan  lapis Surabaya tidak membutuhkan emulsifier karena jumlah kuning telurnya banyak dan dengan jumlah kuning telur telur seperti itu bisa menyatu sempurna  dengan  gula.  Selain bisa membentuk  emulsi  antara  gula dengan telur, tbm dkk itu berfungsi juga melembutkan  kue dan cake (Kamalia, 2012).
h.      Baking powder
Baking powder merupakan bahan pengembang yang umum digunakan pada cake.  Baking powder berfungsi  sebagai  pengembang, untuk memperbaiki “eating quality”, memperbaiki warna crumb (lebih cerah).  Baking  powder  biasanya  bereaksi  pada saat pengocokkan  dan akan  bereaksi  cepat apabila  dipanaskan  hingga  40–50C.  Komposisi baking powder yaitu natrium bikarbonat (NaHCO3), asam atau garam- garam asam, bahan pengisi (filler) (Kamalia, 2012).
3.      Proses pembuatan cookies
Menurut Whiteley (1971) dalam Hestisa (2012) ada dua metode dalam pembuatan adonan cookies, yaitu metode krim (creaming method) dan metode all-in. metode krim merupakan pencampuran secara berturut-turut antara lemak dan gula, kemudian ditambahkan pewarna dan essens, lalu penambahan susu. Sedangkan metode pembuatan cookies dengan metode all-in adalah metode dimana semua bahan dicampur secara langsung bersama tepung. Proses pemcampuran dilakukan hingga adonan cukup mengembang. Pemanggangan cookies dapat dilakukan selama 10-12 menit dengan suhu 193 C.


BAB III
METODE PENULISAN
A.    Jenis penulisan
Jenis tulisan ini adalah karya tulis ilmiah non-penelitian dengan menggunakan metode studi pustaka yaitu suatu penemuan gagasan yang berdasarkan pada kumpulan jurnal penelitian, buku-buku, dan berbagai literatur relevan untuk kemudian dikaji agar memperoleh solusi terhadap permasalahan berdasarkan hasil olah pikir penulis.
B.     Objek Tulisan
Objek tulisan pada penulisan karya tulis ilmiah non-penelitian ini adalah penanganan masalah penyakit kwashiorkor dengan memanfaatkan daun katuk sebagai bahan pembuatan cookies. Penulis mengkaji tentang seputar masalah gizi khususnya penyakit kwashiorkor, manfaat dan pengolahan daun katuk yang aman dikonsumsi serta cara membuat cookies. Dengan demikian akan diperoleh suatu inovasi cemilan sehat bagi penderita kwashiorkor yang berasal dari daun katuk.
C.    Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada karya ilmiah non-penelitian ini adalah studi pustaka. Studi pustaka merupakan metode pengumpulan data yang masih menggunakan data sekunder dalam penulisannya. Data sekunder ini seperti kumpulan buku-buku, jurnal penelitian, dokumen-dokumen baik dokumen tertulis, foto-foto, gambar, maupun dokumen elektronik yang dapat mendukung proses penulisan.
Data yang terdapat dalam karya tulis ini diperoleh dengan mengumpulkan berbagai literatur yang sesuai dengan masalah yang diangkat, seperti buku-buku, artikel serta jurnal yang relevan dengan objek yang dikaji. Kemudian dengan berbagai literatur tersebut selanjutnya direduksi dan dituliskan dalam telaah pustaka.
D.    Prosedur Penulisan
Pada tahap ini penulis menemukan masalah yang akan dikaji, dari masalah ini akan timbul judul. Selanjutnya, pengumpulan data kemudian penyeleksian data terhadap relevansinya dengan masalah yang dikaji. Data yang telah terkumpul direduksi dan dianalisis secara deskriptif. Setelah itu, menawarkan solusi berdasarkan hasil olah pikir penulis yang berangkat dari analisis permasalahan. Pada bagian akhir, penulis menyimpulkan tentang masalah yang telah dijelaskan dalam karya tulis ilmiah ini. Kesimpulan ini merupakan intisari dari pendahuluan sampai pada tahapan pembahasan.

 
BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS
A.    Analisis
Status gizi balita diukur berdasarkan umur, berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Variable umur, BB dan TB ini disajikan dalam bentuk tiga idikator antropometri, yaitu: berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).  Menurut Riskesdas (Riset kesehatan dasar) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada tahun 2013, terdapat 19,6% balita kekurangan gizi yang terdiri dari 5,7% balita dengan gizi buruk dan 13,9% berstatus gizi kurang serta sebesar 4,5% balita yang gizi lebih. Jika dibandingkan dengan angka prevalensi nasional tahun 2010 (17,9%), pravalensi kekurangan gizi pada balita tahun 2013 terlihat meningkat. Balita kekurangan gizi tahun 2010 terdiri dari 13,0% balita berstatus gizi kurang dan 4,9% berstatus gizi buruk. Perubahan terutama pada pravalensi gizi buruk yaitu dari 4,9% pada tahun 2010 dan 5,7 tahun 2013. 
Indikator gizi lain yaitu tinggi badan menurut umur (TB/U) memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya kronis sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama. Menurut Riskesdas (Riset kesehatan dasar) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada tahun 2013 terdapat 37,2% balita dengan tinggi badan di bawah normal yang terdiri dari 18,0% balita sangat pendek dan 19,2% balita pendek.
Indikator antropometri lain untuk menilai status gizi balita yaitu berat badan menuurt tinggi badan (BB/TB). Pada tahun 2013 12,1% balita wasting (kurus) yang terdiri dari 6,8% balita kurus dan 5,3% sangat kurus. Angka ini menurun dibandingkan tahun 2010 dnegan persentase 13,3%. Prevalensi sangat kurus secara nasional tahun 2013 masih cukup tinggi yaitu 5,3% terdapat penurunan dibandingkan tahun 2010 (6,0%). Demikian pula halnya dengan pravalensi kurus sebesar 6,8% juga menunjukkan adanya penurunan dari 7,3% (tahun 2010).
Dari data-data di atas diketahui bahwa Gizi buruk pada balita di Indonesia sangatlah tinggi. Dalam hal ini gizi buruk yang dimaksud adalah penyakit kwaskiorkor. Kwaskiorkor sendiri merupakan suatu penyakit yang menyerang balita (usia 0 tahun sampai 4 tahun), penyakit kwaskiorkor ini terjadi karena kekurangan asupan protein. Penderita kwaskiorkor ini memiliki ciri-ciri rambut berwarna merah (pirang), Edema, Cegeng, kulit keirng dan bersisik, perut membesar dan mata sayu.
Penderita kwaskiorkor merupakan anak-anak usia 0 tahun sampai 4 tahun. Masa tersebut merupakan masa dimana asupan gizi tinggi sangat diperlukan karena masa itu balita akan tumbuh secara sangat cepat. Namun di Indonesia pemenuhan gizi bagi anak-anak sangatlah kurang. Kondisi ekonomi menjadi faktor utama dalam ketidakmampuan orang tua memberikan asupan gizi lengkap. Namun sangat disayangkan di Indonesia memiliki banyak kekayaaan alam yang sangat melimpah baik itu bahan makanan, sandang, dan papan.
Indonesia memiliki banyak bahan makanan yang dapat digunakan dan diambil langsung di alam. Misalnya saja daun katuk. Banyak orang yang tidak mengetahui daun katuk. Padahal tumbuhan ini memiliki kandungan gizi yang sangat baik.
Katuk (Sauropus androgynous) merupkan tanaman sayuran yang banyak terdapat di Asia Tenggara. Tumbuhan ini dalam beberapa Bahasa dikenali sebagai  mani cai (Bahasa Cina), cekur manis (Bahasa Melayu), dan rau ngot (Bahasa Vietnam), di Indonesia masyarakat Minangkabau menyebut katuk dengan nama simani.
 Kandungan gizi daun katuk tersaji pada tabel 1.
Tabel 1. Kandungan zat gizi pada katuk per 100 g
No
Kandungan Zat (Satuan)
Kadar 1*
Kadar 2**
13.   
Energi (kkal)
59
53
14.   
Protein (g)
6,4
5,3
15.   
Lemak (g)
1,0
0,9
16.   
Karbohidrat (g)
9,9-11,0
9,1
17.   
Serat (g)
1,5
1,2
18.   
Abu (g)
1,7
1,4
19.   
Kalsium (mg)
204
185
20.   
Fosfor (mg)
83
102
21.   
Besi (mg)
2,7-3,5
3,1
22.   
Vitamin C (mg)
164-239
66
23.   
-Karoten ( g)
10,02
9000
24.   
Air (g)
81
83,3
Keterangan:
* Kandungan zat gizi pada daun katuk per 100 g menurut (Wiarto,2014).
** Kandungan zat gizi pada daun katuk per 100 g menurut DEPKES.
Selain zat gizi di atas, daun katuk juga mengandung senyawa metabolik sekunder yaitu monomethyl succinate dan cis-2-methyl pyroglutamate (alkaloid), Saponin, flavonoid dan tanin. Senyawa-senyawa tersebut sangat penting dalam metabolisme lemak, karbohidrat dan protein dalam tubuh (Kamila, 2012).
Pemilihan bahan katuk sebagai bahan olahan yang akan digunakan karena melihat fakta yang ada banyak masyarakat yang tidak mengetahui tumbuhan katuk itu sendiri dan adapun yang telah mengetahuinya hanya menggunakannya sebagai lalapan atau bahan pelengkap sayuran. Bukan hanya itu pemilihan daun katuk didasarkan pula pada kandungan gizi khususnya protein yang cukup tinggi sekitar 6,4% dan kandungan karbohidrat sekitar 9,1%.
Walaupun daun katuk hanya boleh dikonsumsi sebanyak 50 gram/hari karena memiliki zat berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit insomnia seperti yang terjadi di Negara Taiwan 44 orang mengkonsumsi jus daun katuk mentah (150 g) selama 2 minggu sampai 7 bulan, terjadi efek samping dengan gejala sukar tidur, tidak enak makan dan sesak nafas. Oleh karena dalam pemanfaatannya nanti hanya digunakan takaran saji sebanyak 50 gr daun katuk segar yang nantinya akan diambil ekstraknya yang akan menjadi pewarna pada pembuatan cookies.
Kemudian untuk pemilihan cookies sebagai alternative cemilan dikarenakan Cookies  merupakan  produk  patiseri  yang  terbuat  dari  bahan  tepung terigu,  gula  pasir,  lemak,  dan  telur.  Cookies memiliki  karakteristik  manis, kaya akan lemak dan gula yang dibuat dengan menggunakan cetakan. Choco Cookies merupakan produk cookies yang bertekstur renyah, lembut, rasanya manis. Choco cookies terbuat  dari  tepung,  margarin,  kuning  telur,  coklat bubuk, baking powder, dan choco chip. Kelebihan dari produk choco cookies adalah  disukai  banyak  orang  dari  semua  kalangan  mulai  dari  anak–anak sampai orang tua, choco cookies dapat bertahan lama karena bahan yang digunakan  banyak  menggunakan  bahan  kering  sehingga  bisa  bertahan  1-6 bulan.
B.     Sintesis
Dalam pembuatan cookies daun katuk ini hampirlah sama dengan pembuatan cookies pada umumnya. Namun dalam hal ini diberikan penambahan daun katuk sebagai penambah gizi pada cookies tersebut. Adapun langkah-langkah pembuatan cookies daun katuk ini sebagai berikut ini:
1.      Pilih dahulu daun katuk yang mudah dan segar sebanyak 50 g
Pemilihan daun katuk muda dan segar karena daun katuk muda dan segar memiliki kandungan gizi yang lebih baik dibandingkan daun katuk yang sudah tua.
2.      Kemudian daun katuk yang segar tersebut dicuci
3.      Rebus daun katuk selama 20 menit
Jadi proses perebusan dilakukan menghilangkan sifat anti protozoa yang berbahaya bagi tubuh.
4.      Lalu setelah perebusan air perebusan dibuang kemudian daun katuk akan dihaluskan dengan cara digiling atau ditumbuk baru direndam air lalu kemudian diperas dan diambil ekstraknya.
5.      Setelah ekstrak daun katuk telah siap ambil 400 gram tepung terigu, 400 gram margarin atau butter, 200 gram gula apsir, 3 kuning telur, 1 sdt vanili cair, 1 sdt baking powder.
6.      Setelah bahan siap mula-mula kosok butter, gul, telur dan vanili sampai putih kemudian setelah dikocok hingga mengembang tambahkan ekstrak daun katuk kental tadi sedikit demi sedikit.
7.      Terakhir masukkan sedikit demi sedikit tepung terigu.
8.      Campur sampai kalis, kemudian bentuk sesuai selera. Setelah itu adonan siap untuk dipanggang.
Waktu pemanggangan cukup sekitar 15-20 menit terhantung besar kesil bentuk adonannya. Upayakan apinya sesuai dengan kondisi oven , dan jangan terlalu panas.



 
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A.    Simpulan
Daun katuk merupakan sejenis tanaman sayuran yang banyak terdapat di Asia Tenggara dan memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi. Bukan hanya itu pemilihan daun katuk didasarkan pula pada kandungan gizi khususnya protein yang cukup tinggi sekitar 6,4% dan kandungan karbohidrat sekitar 9,1. Daun katuk sangat baik digunakan untuk membuat cemilan cookies karena kandungan gizi yang dimiliki sangat tinggi dan sangat berguna untuk penderita kwarsiorkor.
B.     Saran
Kekurangan dari produk cookies adalah karena cookies mempunyai rasa yang sangat manis dan bila dikonsumsi setiap hari akan mengakibatkan gigi rusak atau karises pada gigi, selain itu untuk konsumsi daun katuk tidak boleh melebihi 50 gram/hari. Oleh karena itu, penulisan karya tulis ini sebaiknya dapat dapat dilanjutkan ke tingkat penelitian sehingga didapatkan proses penyempurnaan dari pengolahan daun katuk menjadi cookies dengan formulasi yang enak, aman dan dapat diterima masyarakat.




2 komentar:

  1. 아이비 - thtopbet.com カジノ シークレット カジノ シークレット 우리카지노 마틴 우리카지노 마틴 matchpoint matchpoint 카지노 가입 쿠폰 카지노 가입 쿠폰 planet win 365 planet win 365 카지노 카지노 happyluke happyluke 우리카지노 마틴 우리카지노 마틴 52 Play Spades online for free - Vntopbet

    BalasHapus
  2. I Found The King Of Dealers
    A game company known in Japan for their amazing 3D animation systems kirill-kondrashin and high quality sound 우리카지노 The King of Dealers is an animation platformer game which is

    BalasHapus