COOKIES DAUN KATUK (Sauropus
adrogynus L. Merr) SEBAGAI CEMILAN SEHAT UNTUK PENDERITA KWASHIORKOR
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Gizi merupakan salah satu faktor penting yang
menentukan tingkat kesehatan manusia. Keadaan gizi dikatakan baik bila terdapat
keseimbangan dan keserasian antara perkembangan fisik dan perkembangan mental.
Tingkat keadaan gizi optimal tercapai bila kebutuhan gizi optimal terpenuhi, yaitu
keadaan gizi seseorang dalam suatu masa bukan saja ditentukan oleh konsumsi zat
gizi pada saat itu saja, tetapi lebih banyak ditentukan oleh konsumsi zat gizi
pada masa lampau, bahkan jauh sebelum masa itu dan itu menentukan status gizi balita
di masa dewasa.
Pada tahun 2012, Indonesia tercatat sebagai
peringkat kelima Negara kekurangan gizi. Peringkat kelima karena jumlah
penduduk Indonesia di urutan ke empat terbesar dunia, jumlah balita yang
kekurangan gizi di Indonesia saat ini sekitar 900 ribu jiwa. Jumlah tersebut
merupakan 4,5% dari jumlah balita Indonesia, yakni 23 juta jiwa (Kemenkes,
2013).
Tingginya angka anak kekurangan gizi di
Indonesia dialami oleh keluarga miskin. Kemiskinan membuat orang tua tidak
sanggup memberikan asupan gizi yang cukup terhadap bayi sehingga bayi mengalami
kekurangan gizi. Masalah gizi juga dipengaruhi oleh pola asuh dan pemahaman
gizi orang tua.
Di Indonesia masalah gizi merupakan masalah
yang utama, salah satunya adalah kekurangan energi protein (KKP). Masalah gizi
masih cukup rawan di beberapa wilayah di Indonesia, terutama di wilayah
pemukiman kumuh di daerah perkotaan, wilayah yang sering dilanda musim kering
(NTB dan NTT). Dimana kondisi masyarakat tersebut banyak yang kekurangan gizi,
banyak balita dan anak-anak yang terkena gizi buruk karena makanan yang tidak
seimbang, terutama dalam hal protein (Nandari, 2014).
Menurut Part Erna (dalam Eka, 2013:44) anak
di bawah usia 5 tahun (balita) merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan
badan yang pesat, sehingga memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap kg berat
badannya. Di Indonesia hampir sepertiga anak pra sekolah menderita KEP
(Kekurangan Energi Protein). Menurut Depkes (2013) KEP adalah keadaan kurang
gizi yang disebabkan oleh kebiasaan makan yang tidak cukup mengandung kalori
dan protein, sehingga akan menyebabkan terjadinya defisiensi protein kalori
atau kekurangan kombinasi keduanya. Protein sangat penting untuk membantu
pertumbuhan anak-anak dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Kekurangan protein dapat mengakibatkan
beberapa jenis penyakit misalnya saja penyakit kwashiorkor. Menurut Kumar S. (2007) Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat
disebabkan oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein
yang rendah. Ditambahkan Kemenkes (2013)
menambahkan kwashiorkor ini merupakan
penyakit yang sangat berbahaya bagi perkembangan dan pertumbuhan balita (anak
usia 0-5 tahun). Penderita penyakit kwashiorkor
memiliki gejala seperti pertumbuhan lambat, edema, gangguan psikomotor, muka
bulat seperti bulan, dan lain sebagainya.
Penanganan
dini pada kasus kwaskiorkor umumnya
memberikan hasil yang baik. Penanganan yang terlambat mungkin dapat memperbaiki
status kesehatan anak secara umum, namun anak dapat mengalami gangguan fisik
yang permanen dan gangguan intelektualnya (Almatsier dalam Eka, 2013: 46).
Upaya-upaya pencegahan yang dilakukan memerlukan sarana dan prasarana kesehatan
yang baik untuk pelayanan kesehatan penyuluhan gizi ada beberapa cara yaitu
dengan pemberian ASI sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang paling
baik untuk bayi, ditambahkan dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi
tinggi pada umur 6 bulan ke atas, pencegahan penyakit infeksi, dengan
meningkatkan kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan, pemberian
imunisasi, penyuluhan tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan usaha
pencegahan jangka panjang, dan pemantauan yang teratur pada anak balita di
daerah yang endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan
(Eryna, 2014: 121).
Penanganan
kwaskiorkor dengan memberikan asupan
gizi yang cukup dapat diberikan dengan berbagai variasi jenis makanan. sehingga
penanggulangan penyakit kwaskiorkor dapat
dibuat suatu inovasi baru dalam pembuatan pangan sehat misalnya saja pembuatan cookies dari bahan daun katuk.
Cookies adalah jenis biskuit
dari adonan lunak, berkadar lemak tinggi, renyah dan bila dipatahkan penampang
potongannya bertekstur kurang padat. Cookies
memiliki
karakteristik
manis, kaya
akan lemak dan gula
yang dibuat dengan menggunakan cetakan. Choco Cookies merupakan produk cookies yang bertekstur renyah, lembut, rasanya manis
(Manlay dalam Kusuma, 2012). Choco cookies
terbuat
dari tepung, margarin,
kuning
telur,
coklat bubuk, baking powder, dan choco
chip. Kelebihan dari produk choco cookies adalah
disukai
banyak
orang dari semua kalangan mulai dari anak–anak sampai
orang tua, choco cookies dapat
bertahan lama karena bahan yang digunakan
banyak
menggunakan
bahan
kering sehingga bisa
bertahan 1-6 bulan
(Siti Hamidah dalam Tri, 2014: 19).
Daun
katuk merupakan jenis tanaman yang banyak digunakan sebebagai bahan untuk
memasak sayur. Daun katuk ini terdapat banyak di Indonesia namun banyak orang
yang tidak mengetahui manfaat dari tanaman tersebut. Menurut Harbone J.B (dalam
Kamalia, 2012) Katuk (Sauropus
androgynous) merupakan tanaman sayuran yang banyak terdapat di Asia
Tenggara. Kandungan daun Katuk
juga kaya akan besi, provitamin A dalam bentuk β-carotene, vitamin C, minyak
sayur, protein dan mineral lainnya. Daun katuk tua terkandung air 10,8%, lemak
20,8%, protein kasar, 15.0%, serat kasar 31,2%, abu 12,7%, dan BETN 10.2%.
Hasil penelitian Usman (dalam
Kamalia, 2012) menunjukkan
bahwa dalam tepung daun katuk mengandung air 12%, abu 8,91%, lemak 26,32%,
protein 23,13%, karbohidrat 29,64%, β-carotene (mg/100 g) 165,05 dan energi
(kal) 134,10. Katuk mimiliki kandungan yang cukup tinggi bayangkan dalam
100 g daun katuk terkandung: energi 59 kal, protein 6,4 g, lemak 1,0 g, hidrat
arang 9,9 g, serat 1,5 g, abu 1,7 g, kalsium 233 mg, fosfor 98 mg, besi 3,5 mg,
karoten 10.20 mcg (vitamin A), B, dan C 164 mg, serta air 81 g.
Tingginya kandungan gizi yang terkandung pada
daun katuk khususnya protein dan karbohidrat sehingga daun katuk berpotensi
dijadikan sebagai salah satu bahan baku pembuatan cookies. Oleh karena itu maka penulis mengambil judul “Cookies Daun Katuk (Sauropus androgynous) Sebagai Cemilan Sehat Penderita Kwashiorkor”.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam karya tulis ini adalah
bagaimana cara mengolah daun katuk menjadi cookies
sebagai cemilan sehat dalam membantu memenuhi gizi penderita kwashiorkor.
C. Tujuan
Penulisan
Berdasarkan
rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan dalam karya tulis ini adalah
untuk membuat inovasi makanan berupa cookies
daun katun sebagai cemilan sehat dalam membantu memenuhi gizi penderita kwashiorkor.
D. Manfaat
Penulisan
Manfaat
penulisan yang diharapkan penulis yaitu:
1. Manfaat teoritis
a.
Penulisan
karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat memberi manfaat dalam pengembangan ilmu
pengetahuan
b.
Penulisan
karya tulis ilmiah ini dapat menjadi bahan referensi yang sesuai untuk
dilakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan isi karya tulis ini.
2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis yang diharapkan yaitu:
a.
Bagi
pemerintah, sebagai bahan masukan untuk solusi kebijakan dalam upaya penanganan
pemberantasan gizi buruk di Indonesia.
b.
Bagi
masyarakat, sebagai bahan informasi untuk membantu anak penderita kwashiorkor dalam mengobati penyakitnya
dan bisa menjadi salah satu peluang usaha di bidang tata boga untuk membuat cookies dari daun katuk.
c.
Bagi
Penulis, untuk memberi pengetahuan, sarana mengembangkan kreatifitas, cara
berpikir yang luas dan merupakan suatu bentuk latihan dalam hal penulisan karya
tulis ilmiah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Gizi
1.
Tinjauan
Umum
Gizi
berasal dari Bahasa Arab “Al-Gizzai”
artinya makanan dan manfaatnya bagi kesehatan, atau dapat juga diartikan dengan
sari makanan yang bermanfaat bagi kesehatan (Ani kurniawan dalam Eka,2008).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) gizi merupakan zat makanan pokok
yang diperlukan bagi pertumbuhan dan kesehatan badan. Adapun pengertian gizi
menurut Sacharin (dalam Eka, 2008) gizi merupakan makanan, zat makanan dan
komponen penyusun makanan, aksi dan interaksi keseimbangan dalam hubungannya
dengan kesehatan dan penyakit, yang juga memerlukan pengertian proses bagaimana
makanan ditelan, dicerna, diserap, diangkut, digunakan dan dikeluarkan oleh
tubuh.
Berdasarkan
tiga pendapat di atas dapat dikatakan bahwa gizi merupakan makanan pokok yang
bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Gizi sangat dibutuhkan demi kesehatan
tubuh dan zat gizi ini bisa didapatkan dari makanan yang dikonsumsi setiap
hari. Menurut Taufiqurrahman (dalam Sugiani, 2011) zat gizi berfungsi untuk
mengatur metabolisme tubuh, memelihara dan mengganti jaringan tubuh, mendukung
pertumbuhan manusia,, dan berperan aktif dalam mekanisme pertahanan terhadap
pengaruh lingkungan di sekitar.
Menurut Pearson (dalam Kusuma, 2012) zat gizi
dapat dikelompokkan menjadi beberapa berdasarkan fungsinya sebagai berikut:
a.
Zat gizi sebagai sumber energi
Zat gizi yang
terkandung dalam karbohidrat, lemak dan protein berfungsi menggerakkan tubuh
dan proses metabolisme tubuh. Ketiga zat gizi juga akan menghasilkan energi
untuk bergerak dan aktivitas fisik, dan metabolisme tubuh. Zat Gisi Sebagai
sumber energi bisa anda dapatkan pada jenis makanan: nasi dan jagung
(karbohidrat); mentega dan margarin (sumber lemak); daging, ikan, dan telur
(sumber protein) (Kusuma, 2012).
b.
Zat gisi
untuk memaksimalkan pertumbuhan dan mempertahankan jaringan tubuh
Sumber Zat gizi seperti
lemak, protein, mineral dan vitamin. berfungsi membentuk sel-sel pada jaringan
tubuh, untuk menggantikan sel-sel tubuh yang rusak dan mempertahankan fungsi
organ tubuh yang masih bagus (Kusuma, 2012).
c.
Zat gizi
untuk membantu metabolisme
Sumber zat gizi
seperti vitamin, protein dan mineral berfungsi mengatur proses metabolism di
dalam tubuh (Kusuma, 2012)
2.
Sumber
Gizi
Menurut Lies Suprapti (dalam Kusuma, 2012) pada
dasarnya, tubuh membutuhkan bermacam-macam zat makanan, baik berupa zat makanan
makro maupun zat makanan mikro. Zat makanan makro atau makronutrien adalah
zat-zat makanan yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah banyak. Makronutrien
meliputi karbohidrat, protein, dan lemak. Sedangkan zat makanan mikro atau
mikronutrien adalah zat yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Mikronutrien
meliputi vitamin dan mineral.
a.
Karbohidrat
Merupakan
sumber energi utama bagi manusia. Karbohidrat kebanyakan tersimpan di dalam
bahan makanan pokok manusia, misalnya padi, jagung, gandum, ubi, singkong, dan
sagu. Selain tersimpan di dalam bahan makanan pokok, karbohidrat juga ditemukan
dalam bentuk makanan olahan, seperti mie, selai, sirup, roti, dan
tepung-tepungan (Kusuma, 2012).
b.
Protein
Merupakan
bagian terbesar tubuh setelah air. Diperkirakan, seperlima bagian tubuh adalah
protein. Protein berasal dari hewan dan tumbuhan. Protein yang berasal dari
hewan disebut protein hewani dan protein yang berasal dari tumbuhan disebut
protein nabati. Sumber protein hewani antara lain telur, susu, daging, ikan,
dan kerang. Sedangkan sumber protein nabati antara lain kacang-kacangan,
terutama kacang kedelai, jagung, dan berbagai jenis sayuran (Kusuma, 2012).
c.
Lemak
Lemak
merupakan senyawa organic yang tidak laruut di dalam air. Lemak hanya dapat
larut dalam pelarut organic seperti etanol, eter, kloroform, dan benzene. Lemak
dapat berasal dari tumbuhan (lemak nabati) dan hewan (lemak hewani). Lemak
nabati meliputi minyak kelapa, kelapa sawit, kacang tanah, kacang kedelai,
jagung, dan buah avokad. Sedangkan lemak hewani antara lain daging, susu,
mentega, krim, keju, dan kuning telur (Kusuma, 2012).
d.
Vitamin
Vitamin
merupakan senyawa organic kompleks esensial yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah
kecil. Berdasarkan sifat kelarutannya, vitamin dapat dibedakan atas dua
kelompok, yaitu vitamin larut dalam lemak dan vitamin larut dalam air. Vitamin
terdiri atas vitamin A, B, C, D, E, dan K. vitamin banyak terdapat pada sayuran
dan buah-buahan (Kusuma, 2012).
e.
Mineral
Mineral
merupakan senyawa anorganik yang diperlukan dalam pemeliharaan fungsi tubuh.
Mineral dapat dibedakan atas mineral mikro dan mineral makro. Mineral makro
adalah mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah lebih dari 100 mg perhari.
Sedangkan mineral mikro adalah mineral yang dibutuhkan kurang dari 100 mg.
tubuh mengandung lebih 5 gram untuk setiap mineral makro dan kurang dari 5 gram
untuk setiap mineral mikro (Kusuma, 2012).
3.
Status
Gizi Anak
Menurut
Muniz (dalam Nandari, 2014) salah satu indikator kesehatan yang dinilai
pencapaiannya dalam MGDs adalah satus gizi balita. Status gizi balita diukur
berdasarkan umur, berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Indikator status gizi
berdasarkan indeks BB/U memberikan indikasi masalah gizi secara umum. Indikator
ini tidak memberikan indikasi tentang masalah gizi yang sifatnya kronis karena
berat badan berkolerasi positif dengan umur dan tinggi badan.
Menurut
Riskesdas (Riset kesehatan dasar) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada
tahun 2013, terdapat 19,6% balita kekurangan gizi yang terdiri dari 5,7% balita
dengan gizi buruk dan 13,9% berstatus gizi kurang serta sebesar 4,5% balita
yang gizi lebih. Jika dibandingkan dengan angka prevalensi nasional tahun 2010
(17,9%), pravalensi kekurangan gizi pada balita tahun 2013 terlihat meningkat.
Balita kekurangan gizi tahun 2010 terdiri dari 13,0% balita berstatus gizi
kurang dan 4,9% berstatus gizi buruk. Perubahan terutama pada pravalensi gizi
buruk yaitu dari 4,9% pada tahun 2010 dan 5,7 tahun 2013.
Gambaran
kekurangan gizi pada balita tahun 2013 terdapat pada gambar berikut ini.
Grafik 2.1 Persentase balita kekurangan gizi berdasarkan
berat badan menurut umur BB/U menurut provinsi, Riskesdas tahun 2013
Di antara 33 provinsi di Indonesia, 19 provinsi
pravalensi balita kekurangan gizi di atas angka pravalensi nasional yaitu
berkisar 19,7% sampai 33,1%. Dari gambar terlihat ada bahwa proporsi tertinggi
balita gizi buruk dan kurang terdapat pada daerah Nusa Tenggara Timur (33%).
Sedangkan proporsi terendah Gizi buruk pada provinsi Bali (13,2%).
Indikator gizi lain yaitu tinggi badan menurut umur
(TB/U) memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya kronis sebagai akibat
dari keadaan yang berlangsung lama. Indikator status gizi berdasarkan indeks
BB/TB memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari
peristiwa yang terjadi dalam waktu yang tidak lama. Menurut Riskesdas (Riset
kesehatan dasar) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada tahun 2013 terdapat
37,2% balita dengan tinggi badan di bawah normal yang terdiri dari 18,0% balita
sangat pendek dan 19,2% balita pendek. Dibandingkan tahun 2010, terjadi
peningkatan persentase balita pendek dan sangat pendek menunjukkan penurunan,
dari 18,8% tahun 2007 dan 18,5% tahun 2010.
Berdasarkan hasil Riskesdas Kemenkes tahun 2013 menurut
provinsi, prevalensi balita pendek terendah terjadi di Kepulauan Riau (26,3),
Di Yogyakarta (27,3%), DKI Jakarta (27,5%). Sedangkan provinsi dengan
prevalensi balita pendek tertinggi di Nusa Tenggara Timur (51,7%), Sulawesi
barat (48,0%), dan Nusa Tenggara Barat (45,2%).
Masalah kesehatan masyarakat dianggap berat bila
prevalensi pendek sebesar 30-39% dan serius bila prevalensi pendek ≥40% (WHO
2010). Sebanyak 13 provini termasuk kategori berat dan sebanyak 15 provinsi
termasuk kategori serius. Ke 15 provinsi tersebut adalah: Papua (40,1%), Maluku
(40,6%), Sulawesi Selatan (40,9%), Sulawesi Tengah (41,0%), Maluku Utara
(41,1%), Kalimantan Tengah (41,3%), Aceh (41,5%), Sumatera Utara (42,5%),
Sulawesi Tenggara (42,6%), Lampung (42,6%), Kalimantan Selatan (44,2%), Papua
Barat (44,7%), Nusa Tenggara Barat (45,2%), Sulawesi Barat (48,0%), dan Nusa
Tenggara Timur (51,7%).
Indikator antropometri lain untuk menilai status gizi
balita yaitu berat badan menuurt tinggi badan (BB/TB). Pada tahun 2013 12,1%
balita wasting (kurus) yang terdiri
dari 6,8% balita kurus dan 5,3% sangat kurus. Angka ini menurun dibandingkan
tahun 2010 dnegan persentase 13,3%. Prevalensi sangat kurus secara nasional
tahun 2013 masih cukup tinggi yaitu 5,3% terdapat penurunan dibandingkan tahun
2010 (6,0%). Demikian pula halnya dengan pravalensi kurus sebesar 6,8% juga
menunjukkan adanya penurunan dari 7,3% (tahun 2010).
Masalah kesehatan Masyarakat sudah dianggap serius bila
prevalensi kurus anatra 10,0% sampai 14,0% dan dianggap kritis bila ≥15,0% (WHO
2010). Pada tahun 2013, secara nasional prevalensi kurus pada anak balita masih
12,2%, yang artinya masalah kurus di Indonesi masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang serius. Diantara 33 provinsi, terdapat 23 provinsi termasuk
kategori serius, dan 6 provinsi termasuk kategori kritis, yaitu Kalimantan
Barat, Maluku, Aceh dan Riau.
B.
Kwashiorkor
Kwashiorkor
adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan oleh asupan
karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein yang rendah (Kumar, S.
2007). Menurut Sri Sugiani (2011) kwashiorkor
merupakan penyakit yang disebabkan kekurangan protein dan kalori, ditemukan
pada anak berusia 6 bulan sampai 4 tahun. Pertumbuhan selama 4 tahun pada anak
sangat cepat, sehingga anak-anak tersebut lebih banyak memerlukan kalori dan
protein dan bila kekurangan dapat menimbulkan terjadinya kwashiorkor. Kemudian
menurut Isnani Nurhayati, SKM (2014) menyatakan bahwa “Kwashiorkor merupakan
MEP berat yang disebabkan oleh defisiensi protein”. Jadi berdasarkan ketiga
pendapat di atas dapat diketahui bahwa kwashiorkor merupakan suatu penyakit
akibat kekurangan asupan protein yang menyerang anak-anak usia 6 bulan sampai 4
tahun.
Gambar
2.1 Penderita kwaskiorkor (Alfarizi,
2011)
Penyakit
kwashiorkor pada umumnya terjadi pada
anak dari keluarga dengan status ekonomi rendah karena tidak mampu menyediakan
makanan yang cukup mengandung protein hewani seperti daging, telur, hati, susu,
dan sebagainya. Makanan sumber protein sebenarnya dapat dipenuhi dari protein
nabati dalam kacang-kacangan tetapi karena kurangnya pengetahuan orang tua,
anak dapat menderita defisiensi protein (Isnani, 2014). Menurut soetjiningsih
(1998) dalam Isnani (2014:1) secara klinik gambaran penderita kwashiorkor
adalah sebagai berikut:
1. Pertumbuhan
terganggu (berat badan dan tinggi badan kurang dari standar)
a.
Perkiraan berat badan (kg)
1)
Lahir 3,25
2)
3-12 bulan (bulan +9)/2
3)
11-6 tahun (tahun × 2) + 8
4)
6-12 tahun ((tahun × 7) – 5) / 2
b.
Perkiraan tinggi badan (Cm)
1)
1 tahun 1,5 × TB lahir
2)
4 tahun 2 × TB lahir
3)
6 tahun 1,5 × TB 1 tahun
4)
13 tahun 3 × TB lahir
5)
Dewasa 3,5 × TB lahir = 2 × TB 2 tahun
2. Perubahan
mental (cegeng atau apatis)
3. Edema,
yang dapat terjadi di seluruh tubuh, wajah sembab dan membulat, mata sayu,
rambut tipis, kemerahan seperti rambut jagung, mudah dicabut dan rontok,
pembesaran hati, otot mengecil (hipotrofil),
bercak merah kecoklatan di kulit dan mudah terkelupas (crazy pavement dermatosis), sering disertai penyakit infeksi
terutama akut, diare, dan anemia. Pada sebagian besar anak ditemukan edema
ringan sampai berat.
4. Kulit
kering, bersisik, hiperpigmentasi dan sering ditemukan gambaran crazy pavement dermatosis.
C. Daun Katuk
1.
Defenisi
Katuk
Katuk (Sauropus
androgynous) merupkan tanaman sayuran yang banyak terdapat di Asia
Tenggara. Tumbuhan ini dalam beberapa Bahasa dikenali sebagai mani
cai (Bahasa Cina), cekur manis
(Bahasa Melayu), dan rau ngot (Bahasa
Vietnam), di Indonesia masyarakat Minangkabau menyebut katuk dengan nama
simani. Selain menyebut katuk, masyarakat Jawa juga menyebutnya katuan atau
babing. Sementara itu masyarakat Madura menyebutnya kerakur dan orang Bali
lebih mengenalnya dengan kayu manis. Tanaman katuk sesungguhnya sudah dikenal
nenek moyang kita sejak abad ke-16 (Wiarto, 2008).
Gambar 2.2 Tanaman katuk (Endah, 2011)
Katuk termasuk tanaman jenis perdu dengan ketinggian 3,5
meter. Batangnya tumbuh tegak dan berkayu. Jika ujung batang dipangkas, akan
tumbuh tunas-tunas baru yang membentuk percabangan. Daunnya kecil-kecil mirip
daun kelor, berwarna hijau. Katuk termasuk tanaman yang rajin berbunga.
Bunganya kecil-kecil berwarna merah gelap sampai kekuning-kuningan, dengan
bintikbintik merah. Bunga tersebut akan menghasilkan buah berwarna putih yang
di dalamnya terdapat biji berwarna hitam (Wiarto, 2008). Selain itu menurut
Wiarto (2008) tanaman katuk diklasifikasikan sebagai:
Kingdom :
Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Malpighiales
Famili : Phyllanthaceae
Genus : Sauropus
Spesies : Sauropus
androgynous
2.
Morfologi
Daun Katuk
a.
Batang
Tanaman
katuk merupakan tanaman sejenis tanaman perdu yang tumbuh menahun. Sosoknya
berkesan ramping sehingga sering ditanam sebagai tanaman pagar. Tingginya
sekitar 3-5 meter dengan batang tumbuh tgeak, berkayu, dan bercabang jarang.
Batangnya berwarna hijau saat masih muda dan menjadi kelabu keputihan saat
sudah tua.
b.
Daun
Daun
katuk merupakan daun genap, berukuran kecil, berwarna hijau gelap dengan
panjang 5-6 cm. Kandungan zat besi pada daun katuk lebih tinggi daripada daun
papaya dan daun singkong. Daun katuk juga kaya vitamin (A, B1, dan C1),
protein, lemak, danm mineral (Wiarto, 2008).
c.
Bunga
Katuk
merupakan tanaman yang rajin berbunga. Bunganya kecil-kecil berwarna merah
gelap sampai kekuning-kuningan, dengan bitnik-bintik merah. Bunga tersebut
menghasilkan buah berwarna putih yang di dalamnya terdapat biji berwarna hitam
(Wiarto, 2008).
d.
Buah
Buah
katuk tersebut bulat, berukuran kecil-kecil seperti kancing, berwarna putih dan
berbiji 3 buah (Wiarto, 2008).
e.
Akar
Tanaman
katuk berakar tunggang dan berwarna putih kotor (Wiarto, 2008).
f.
Perkembangbiakan tanaman katuk
Cara
perbanyakannya melalui stek batang yang belum terlalu tua. Pananamannya dapat
dilakukan dipekarangan sebagai pagar hidup. Bila produksi daunnya tinggal
sedikit, tanaman katuk dapat diremajakan dengan cara batang utamanya dipangkas
(Wiarto, 2008).
g.
Kandungan gizi daun katuk
Kandungan gizi daun katuk tersaji pada tabel
1.
Tabel 1. Kandungan zat gizi pada katuk per
100 g
|
No
|
Kandungan Zat (Satuan)
|
Kadar 1*
|
Kadar 2**
|
|
1.
|
Energi
(kkal)
|
59
|
53
|
|
2.
|
Protein
(g)
|
6,4
|
5,3
|
|
3.
|
Lemak
(g)
|
1,0
|
0,9
|
|
4.
|
Karbohidrat
(g)
|
9,9-11,0
|
9,1
|
|
5.
|
Serat
(g)
|
1,5
|
1,2
|
|
6.
|
Abu
(g)
|
1,7
|
1,4
|
|
7.
|
Kalsium
(mg)
|
204
|
185
|
|
8.
|
Fosfor
(mg)
|
83
|
102
|
|
9.
|
Besi
(mg)
|
2,7-3,5
|
3,1
|
|
10.
|
Vitamin
C (mg)
|
164-239
|
66
|
|
11.
|
-Karoten (
g)
|
10,02
|
9000
|
|
12.
|
Air
(g)
|
81
|
83,3
|
Keterangan:
* Kandungan zat gizi pada daun katuk per 100
g menurut (Wiarto,2014).
** Kandungan zat gizi pada daun katuk per 100
g menurut DEPKES.
Selain
zat gizi di atas, daun katuk juga mengandung senyawa metabolik sekunder yaitu
monomethyl succinate dan cis-2-methyl
pyroglutamate (alkaloid), Saponin,
flavonoid dan tanin. Senyawa-senyawa
tersebut sangat penting dalam metabolisme lemak, karbohidrat dan protein dalam
tubuh (Kamila, 2012).
3.
Kandungan
Zat
Hasil
analisis GCMS pada ekstrak heksana menunjukkan adanya beberapa senyawa
alifatik. Pada ekstrak eter terdapat komponen utama yang meliputi: monometil
suksinat, asam benzoate dan asam 2-fenilmalonat, serta komponen minor meliputi:
terbutol 2-propagiloksan, 4H-piran-4-on, 2-metoksi-6 metil, 3-peten-2-on,
3-(2-furanil). Dan asam palmiat. Pada ekstrak etil asetat terdapat komponen
utama yang meliputi: sis-2-metil-siklopentanol asetat. Kandungan daun katuk
meliputi protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B, dan C,
pirolidinon, dan metil piroglutamat serta p-dodesilfenol sebagai komponen minor
(Wiarto, 2014).
Dalam 100 g daun katuk terkandung: energi 59 kal, protein
6,4 g, lemak 1,0 g, hidrat arang 9,9 g, serat 1,5 g, abu 1,7 g, kalsium 233 mg,
fosfor 98 mg, besi 3,5 mg, karoten 10020 mcg (vitamin A), B, dan C 164 mg,
serta air 81 g. tanaman katuk dapat meningkatkan produksi ASI diduga
berdasarkan efek hormonal dari kandungan kimia sterol yang bersifat estrogenic.
Pada penelitian tersebut daun katuk mengandung efedrin (Wiarto, 2014).
4.
Efek
Farmakologis
Daun
katuk berkhasiat memperbanyak air susu, untuk demam, bisul, borok dan darah
kotor. Tiga penelitian menyetakan infus daun katuk dapat meningkatkan produksi
air susu pada mencit. Infus daun katuk dapat meningkatkan jumlah asini tiap
lobules kelenjar susu mencit. Satu penelitian menyatakan isolate fase eter dan
ekstrak petroleum eter daun katuk tidak menyebabkan peningkatan sekresi air
susu yang bermakna. Satu penelitian menyatakan bahwa dekok akar katuk efek
antipiretik terhadap burung merpati (Wiarto, 2014).
Infus
akar katuk mempunyai diuretic dengan dosis 72 mg/100 g bb. Konsumsi sayur katuk
oleh ibu menyusui dapat memperlama waktu menyusui bayi perempuan secara nyata
dan untuk bayi pria hanya meningkatkan frekuensi dan lama menyusui. Proses perebusan
daun kauk dapat menghilangkan sifat anti protozoa. Pemberian infus daun katuk
kadar 20%, 40%, dan 80% pada mencit selama periode organogenesis tidak
menyebabkan cacat bawaan (teratogenik) dan tidak menyebabkan resorbsi. Jus daun
katuk mentah dugunakan sebagai pelangsing di Taiwan (Wiarto, 2014).
5.
Efek
Samping
Di
Taiwan 44 orang mengkonsumsi jus daun katuk mentah (150 g) selama 2 minggu
sampai 7 bulan, terjadi efek samping dengan gejala sukar tidur, tidak enak
makan dan sesak nafas. Gejala hilang setelah 40-44 hari menghentikan konsumsi
jus daun katuk. Hasil biopsi dari 12 pasien menunjukkan bronkiolitis
obliterasi. Sejumlah 178 pasien mengkonsumsi jus katuk mentah dengan dosis 150
g/hari (60,7%), digoreng (16,9%), campuran (20,8%), dan digodok (1,7%) selama 7
bulan sampai 24 bulan. Terdapat efek samping setelah penggunaan 7 bulan berupa
gejala obstruksi bronkiolitis sedang sampai parah. Sedangkan mengkonsumsi
selama 22 bulan atau lebih menyebabkan gejala bronkiolitis obliterasi yang
permanen (Wiarto, 2014).
Di
Amerika, sejak tahun 1995 daun katuk goreng, salad daun katuk, dan minuman
banyak dikonsumsi oleh masyarakat sebagai obat antiobesitas (pelangsing tubuh).
Penelitian dilakukan terhadap 115 kasus bronkiolitis obliterasi (110 perempuan
dan 5 pria), berumur antara 22-66 tahun yang sebelumnya mengkonsumsi daun
katuk. Pada uji fungsi paru terlihat obstruksi sedang sampai parah. Pengobatan
dengan campuran kortikosteroid, bronkodilatasi, eritromisin, dan zat
imunosupresi hampir tidak berkhasiat. Setelah 2 tahun bronkiolitis obliterasi
berkembang menjadi parah dan terjadi kematian pada 6 pasien (6,1%) (Wiarto, 2014).
Proses
perebusan daun katuk dapat menghilangkan sifat anti protozoa. Jadi dapat
disimpulkan pemanasan dapat mengurangi sampai meniadakan sifat racun daun
katuk.
D. Cookies
1.
Pengertian cookies
Menurut Manlay (2000) dalam Hestisa (2012)
Cookies adalah jenis biskuit dari adonan lunak, berkadar lemak tinggi, renyah
dan bila dipatahkan penampang potongannya bertekstur kurang padat. Syarat mutu cookies di Indonesia tentunya mengacu
pada syarat mutu biscuit. Menurut Matz (1978) dalam Hestisa (2012) syarat mutu
biskuit yang berlaku saat ini adalah Standar Nasional Indonesia (SNI)
01-2973-1992, seperti tercantum dalam tabel 2.1. bahan-bahan yang digunakan
dalam pembuatan cookies terbagi dalam
dua bagian yaitu bahan pengikat dan bahan pelembut tekstur. Bahan-bahan yang
berfungsi sebagai pengikat atau bahan pembentuk adonan adalah tepung, susu, dan
putih telur. Sedanngkan bahan yang berfungsi sebagai pelembut adalah gula,
kuning telur, shortening, dan bahan
pengembang.
Tabel 2.1 Syarat mutu biskuit menurut SNI
01-2973-1992
|
Kriteria
Ujia
|
Syarat
|
|
Energi
(kkal//100g)
|
Minimum
400
|
|
Air (%)
|
Maksimum
5
|
|
Protein
(%)
|
Minimum
9
|
|
Lemak
(%)
|
Minimum
9,5
|
|
Karbohidrat
(%)
|
Minimum
30
|
|
Abu (%)
|
Maksimum
70
|
|
Serat
Kasar (%)
|
Maksimum
0,5
|
|
Logam
Berbahaya
|
Negatif
|
|
Bau dan
Rasa
|
Normal
dan tidak tengik
|
|
Warna
|
Normal
|
2.
Bahan Dasar Cookies
a.
Tepung terigu
Tepung terigu
adalah tepung atau bubuk halus yang
berasal dari bulir gandum,dan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan
kue, mi dan
roti. Tepung terigu juga mengandung protein dalam bentuk gluten, yang berperan dalam menentukan kekenyalan makanan
yang terbuat dari
bahan
terigu
(Kamalia, 2012).
b.
Gula
Gula sebagai
bahan pemanis. Gula yang
digunakan untuk membuat kue adalah gula halus atau gula
pasir dengan butir-butir halus agar susunan kue rata dan empuk.
Gula ini
dapat digunakan
untuk teknik membuat
cookies. Fungsi gula yaitu mematangkan dan mengempukan susunan sel dalam
hal ini mengempukan
protein tepung . Juga memberi kerak yang diinginkan yang mulai terbentuk
pada waktu temperatur rendah, dalam hal ini
proses karamelisasi. Membantu
dalam menjaga kualitas produk. Jumlah gula dalam formula tinggi
maka menjadikan hasil kue kurang baik (Kamalia, 2012).
c.
Margarin
Margarin disebut juga oleomargarine, butter,
dan lardine. Margarin dibuat dari minyak
tumbuh-tumbuhan
dengan
cream dari
susu yang
dijernihkan kemudian
diaduk,
deberi
bahan
perasa
dan warna. Campuran ini kemudian dipisahkan, didinginkan dan dibungkus atau dikalengkan. Minyak tumbuh-tumbuhan yang dipakai antara laian minyak kelapa,
minyak biji matahari, biji kapas atau dari kedelai. Pada waktu proses pembuatan
margarin ada beberapa
penambahan vitamin yaitu vitamin A dan vitamin
D (Kamalia, 2012).
d.
Lemak
Lemak dapat dibedakan menjadi dua
yaitu lemak hewani (mentega) dan lemak
nabati (margarin). Lemak yang
akan digunakan harus disimpan
pada suhu ruang. Lemak tidak dapat larut ke dalam bahan
cair adonan.Untuk itu,
agar lemak dapat stabil ke dalam adonan maka kremkan lemak dan gula
secara bersama-sama. Lemak berfungsi
untuk menghalangi pembentukan gluten.
Penggunaan lemak dapat menghasilkan cookies (kue
kering) yang empuk dan tahan lama (Kamalia, 2012).
e.
Telur
Telur
merupakan yang mesti ada dalam pembuatan
kue cake. Telur bersama tepung membentuk kerangka atau struktur (proteinnya) cake, selain
itu telur juga menyumbangkan
kelembaban
(mengandung 75% air dan
25%
solid) sehingga
cake menjadi empuk,
aroma,
penambah rasa, peningkatan gizi, pengembabangan atau peningkatan
volume serta pempengaruhi warna dari cake. Licitin dalam kuning telur mempunyai daya emulsi sedangkan
lutein dapat membangkitkan warna pada hasil
produk. Telur yang digunakan adalah
telur yang segar (pH 7–7,5),
tidak
dalam
kondisi
dingin,
tidak
rusak
atau
pecah
sebelum dipakai. Sebelum
digunakan telur dikocok terlebih dahulu. Telur berfungsi sebagai pembentuk
kerangka, kebasahan, aroma, warna, kualitas cake. Kuning telur adalah bagian yang lebih padat
dan
terkandung
di dalamnya hampir semua fat dari telur itu. Kuning telur mengandung lechitin, ini
berfungsi sebagai emulsifier (Kamalia, 2012).
f.
Susu
Susu
dapat memiliki fungsi untuk menambah gizi, membangkitkan rasa,
aroma
dan
mampu
menjaga
cairan
dan membantu
mengontrol
kerak.
Gula
susu akan terkaramelisasi pada suhu rendah dan memberikan warna kerak yang diinginkan. Dan efek pengikat yang ada pada protein tepung
bersama-sama bahan padatan
susu akan membentuk struktur produk
cookies. Air yang ada dalam susu cair menimbulkan rasa yang lezat (Kamalia,
2012).
g.
Ovalet
Ovalet merupakan suatu bahan pengembangan atau emulsifier. Fungsi emulsifier/pengembang adalah
membentuk emulsi atau
campuran atara gula dengan telur sehingga menjadi
satu kesatuan yang utuh. Sebetulnya kuning telur
mengandung emulsifier
alami,
oleh karena itu resep kue zaman dahulu seperti kue lapis legit dan lapis
Surabaya tidak membutuhkan emulsifier karena jumlah kuning telurnya
banyak dan dengan jumlah kuning telur telur seperti itu bisa
menyatu sempurna dengan
gula.
Selain
bisa membentuk emulsi
antara
gula dengan
telur, tbm dkk itu berfungsi
juga melembutkan kue dan cake (Kamalia, 2012).
h.
Baking powder
Baking powder merupakan bahan pengembang yang umum
digunakan pada cake. Baking powder
berfungsi sebagai pengembang, untuk memperbaiki “eating quality”, memperbaiki warna crumb (lebih cerah). Baking powder
biasanya bereaksi pada saat pengocokkan
dan akan
bereaksi cepat
apabila dipanaskan hingga 40–50C.
Komposisi baking powder yaitu natrium bikarbonat (NaHCO3),
asam atau garam- garam asam, bahan pengisi (filler) (Kamalia, 2012).
3. Proses pembuatan cookies
Menurut
Whiteley (1971) dalam Hestisa (2012) ada dua metode dalam pembuatan adonan cookies, yaitu metode krim (creaming method) dan metode all-in. metode krim merupakan
pencampuran secara berturut-turut antara lemak dan gula, kemudian ditambahkan
pewarna dan essens, lalu penambahan
susu. Sedangkan metode pembuatan cookies
dengan metode all-in adalah metode
dimana semua bahan dicampur secara langsung bersama tepung. Proses pemcampuran
dilakukan hingga adonan cukup mengembang. Pemanggangan cookies dapat dilakukan selama 10-12 menit dengan suhu 193
C.
BAB III
METODE PENULISAN
A. Jenis penulisan
Jenis tulisan ini adalah karya tulis ilmiah non-penelitian
dengan menggunakan metode studi pustaka yaitu suatu penemuan gagasan yang
berdasarkan pada kumpulan jurnal penelitian, buku-buku, dan berbagai literatur
relevan untuk kemudian dikaji agar memperoleh solusi terhadap permasalahan
berdasarkan hasil olah pikir penulis.
B. Objek Tulisan
Objek tulisan pada penulisan karya tulis ilmiah
non-penelitian ini adalah penanganan masalah penyakit kwashiorkor dengan memanfaatkan daun katuk sebagai bahan pembuatan cookies. Penulis
mengkaji tentang seputar masalah gizi khususnya penyakit kwashiorkor, manfaat
dan pengolahan daun katuk yang aman dikonsumsi serta cara membuat cookies. Dengan demikian akan diperoleh
suatu inovasi cemilan sehat bagi penderita kwashiorkor yang berasal dari daun
katuk.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada karya ilmiah non-penelitian
ini adalah studi pustaka. Studi pustaka merupakan metode pengumpulan data yang
masih menggunakan data sekunder dalam penulisannya. Data sekunder ini seperti
kumpulan buku-buku, jurnal penelitian, dokumen-dokumen baik dokumen tertulis,
foto-foto, gambar, maupun dokumen elektronik yang dapat mendukung proses
penulisan.
Data yang terdapat dalam karya tulis ini diperoleh dengan
mengumpulkan berbagai literatur yang sesuai dengan masalah yang diangkat,
seperti buku-buku, artikel serta jurnal yang relevan dengan objek yang dikaji.
Kemudian dengan berbagai literatur tersebut selanjutnya direduksi dan dituliskan
dalam telaah pustaka.
D. Prosedur Penulisan
Pada tahap ini penulis menemukan masalah yang akan dikaji,
dari masalah ini akan timbul judul. Selanjutnya, pengumpulan data kemudian
penyeleksian data terhadap relevansinya dengan masalah yang dikaji. Data yang
telah terkumpul direduksi dan dianalisis secara deskriptif. Setelah itu,
menawarkan solusi berdasarkan hasil olah pikir penulis yang berangkat dari
analisis permasalahan. Pada bagian akhir, penulis menyimpulkan
tentang masalah yang telah dijelaskan dalam karya tulis ilmiah ini. Kesimpulan
ini merupakan intisari dari pendahuluan sampai pada tahapan pembahasan.
BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS
A. Analisis
Status
gizi balita diukur berdasarkan umur, berat badan (BB) dan tinggi badan (TB).
Variable umur, BB dan TB ini disajikan dalam bentuk tiga idikator antropometri,
yaitu: berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan
berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).
Menurut Riskesdas (Riset kesehatan dasar) Kementerian Kesehatan
(Kemenkes) RI pada tahun 2013, terdapat 19,6% balita kekurangan gizi yang
terdiri dari 5,7% balita dengan gizi buruk dan 13,9% berstatus gizi kurang
serta sebesar 4,5% balita yang gizi lebih. Jika dibandingkan dengan angka
prevalensi nasional tahun 2010 (17,9%), pravalensi kekurangan gizi pada balita
tahun 2013 terlihat meningkat. Balita kekurangan gizi tahun 2010 terdiri dari
13,0% balita berstatus gizi kurang dan 4,9% berstatus gizi buruk. Perubahan
terutama pada pravalensi gizi buruk yaitu dari 4,9% pada tahun 2010 dan 5,7
tahun 2013.
Indikator
gizi lain yaitu tinggi badan menurut umur (TB/U) memberikan indikasi masalah
gizi yang sifatnya kronis sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama.
Menurut Riskesdas (Riset kesehatan dasar) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI
pada tahun 2013 terdapat 37,2% balita dengan tinggi badan di bawah normal yang
terdiri dari 18,0% balita sangat pendek dan 19,2% balita pendek.
Indikator
antropometri lain untuk menilai status gizi balita yaitu berat badan menuurt
tinggi badan (BB/TB). Pada tahun 2013 12,1% balita wasting (kurus) yang terdiri dari 6,8% balita kurus dan 5,3% sangat
kurus. Angka ini menurun dibandingkan tahun 2010 dnegan persentase 13,3%.
Prevalensi sangat kurus secara nasional tahun 2013 masih cukup tinggi yaitu
5,3% terdapat penurunan dibandingkan tahun 2010 (6,0%). Demikian pula halnya
dengan pravalensi kurus sebesar 6,8% juga menunjukkan adanya penurunan dari
7,3% (tahun 2010).
Dari
data-data di atas diketahui bahwa Gizi buruk pada balita di Indonesia sangatlah
tinggi. Dalam hal ini gizi buruk yang dimaksud adalah penyakit kwaskiorkor. Kwaskiorkor sendiri
merupakan suatu penyakit yang menyerang balita (usia 0 tahun sampai 4 tahun),
penyakit kwaskiorkor ini terjadi
karena kekurangan asupan protein. Penderita kwaskiorkor
ini memiliki ciri-ciri rambut berwarna merah (pirang), Edema, Cegeng, kulit
keirng dan bersisik, perut membesar dan mata sayu.
Penderita
kwaskiorkor merupakan anak-anak usia
0 tahun sampai 4 tahun. Masa tersebut merupakan masa dimana asupan gizi tinggi
sangat diperlukan karena masa itu balita akan tumbuh secara sangat cepat. Namun
di Indonesia pemenuhan gizi bagi anak-anak sangatlah kurang. Kondisi ekonomi
menjadi faktor utama dalam ketidakmampuan orang tua memberikan asupan gizi
lengkap. Namun sangat disayangkan di Indonesia memiliki banyak kekayaaan alam
yang sangat melimpah baik itu bahan makanan, sandang, dan papan.
Indonesia
memiliki banyak bahan makanan yang dapat digunakan dan diambil langsung di
alam. Misalnya saja daun katuk. Banyak orang yang tidak mengetahui daun katuk.
Padahal tumbuhan ini memiliki kandungan gizi yang sangat baik.
Katuk (Sauropus
androgynous) merupkan tanaman sayuran yang banyak terdapat di Asia
Tenggara. Tumbuhan ini dalam beberapa Bahasa dikenali sebagai mani
cai (Bahasa Cina), cekur manis
(Bahasa Melayu), dan rau ngot (Bahasa
Vietnam), di Indonesia masyarakat Minangkabau menyebut katuk dengan nama
simani.
Kandungan gizi daun katuk tersaji pada tabel 1.
Tabel 1. Kandungan zat gizi pada katuk per
100 g
|
No
|
Kandungan Zat (Satuan)
|
Kadar 1*
|
Kadar 2**
|
|
13.
|
Energi
(kkal)
|
59
|
53
|
|
14.
|
Protein
(g)
|
6,4
|
5,3
|
|
15.
|
Lemak
(g)
|
1,0
|
0,9
|
|
16.
|
Karbohidrat
(g)
|
9,9-11,0
|
9,1
|
|
17.
|
Serat
(g)
|
1,5
|
1,2
|
|
18.
|
Abu
(g)
|
1,7
|
1,4
|
|
19.
|
Kalsium
(mg)
|
204
|
185
|
|
20.
|
Fosfor
(mg)
|
83
|
102
|
|
21.
|
Besi
(mg)
|
2,7-3,5
|
3,1
|
|
22.
|
Vitamin
C (mg)
|
164-239
|
66
|
|
23.
|
-Karoten (
g)
|
10,02
|
9000
|
|
24.
|
Air
(g)
|
81
|
83,3
|
Keterangan:
* Kandungan zat gizi pada daun katuk per 100
g menurut (Wiarto,2014).
** Kandungan zat gizi pada daun katuk per 100
g menurut DEPKES.
Selain
zat gizi di atas, daun katuk juga mengandung senyawa metabolik sekunder yaitu
monomethyl succinate dan cis-2-methyl
pyroglutamate (alkaloid), Saponin,
flavonoid dan tanin. Senyawa-senyawa
tersebut sangat penting dalam metabolisme lemak, karbohidrat dan protein dalam
tubuh (Kamila, 2012).
Pemilihan
bahan katuk sebagai bahan olahan yang akan digunakan karena melihat fakta yang
ada banyak masyarakat yang tidak mengetahui tumbuhan katuk itu sendiri dan
adapun yang telah mengetahuinya hanya menggunakannya sebagai lalapan atau bahan
pelengkap sayuran. Bukan hanya itu pemilihan daun katuk didasarkan pula pada
kandungan gizi khususnya protein yang cukup tinggi sekitar 6,4% dan kandungan
karbohidrat sekitar 9,1%.
Walaupun
daun katuk hanya boleh dikonsumsi sebanyak 50 gram/hari karena memiliki zat
berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit insomnia seperti yang terjadi di
Negara Taiwan 44 orang mengkonsumsi jus daun katuk mentah (150 g) selama 2
minggu sampai 7 bulan, terjadi efek samping dengan gejala sukar tidur, tidak
enak makan dan sesak nafas. Oleh karena dalam pemanfaatannya nanti hanya
digunakan takaran saji sebanyak 50 gr daun katuk segar yang nantinya akan
diambil ekstraknya yang akan menjadi pewarna pada pembuatan cookies.
Kemudian
untuk pemilihan cookies sebagai alternative cemilan dikarenakan Cookies
merupakan produk patiseri yang
terbuat
dari bahan tepung
terigu, gula pasir, lemak, dan telur. Cookies
memiliki karakteristik manis, kaya akan lemak dan
gula yang dibuat dengan menggunakan cetakan. Choco Cookies merupakan produk cookies yang bertekstur renyah, lembut, rasanya manis.
Choco cookies terbuat dari tepung, margarin,
kuning
telur,
coklat bubuk, baking powder, dan choco
chip. Kelebihan dari produk choco cookies adalah
disukai
banyak
orang dari semua kalangan mulai dari anak–anak sampai
orang tua, choco cookies dapat
bertahan lama karena bahan yang digunakan
banyak
menggunakan
bahan
kering sehingga bisa
bertahan 1-6 bulan.
B. Sintesis
Dalam pembuatan cookies daun katuk ini hampirlah sama
dengan pembuatan cookies pada umumnya. Namun dalam hal ini diberikan penambahan
daun katuk sebagai penambah gizi pada cookies tersebut. Adapun langkah-langkah
pembuatan cookies daun katuk ini sebagai berikut ini:
1.
Pilih dahulu daun katuk
yang mudah dan segar sebanyak 50 g
Pemilihan daun katuk muda dan segar karena daun katuk muda
dan segar memiliki kandungan gizi yang lebih baik dibandingkan daun katuk yang
sudah tua.
2.
Kemudian daun katuk yang
segar tersebut dicuci
3.
Rebus daun katuk selama
20 menit
Jadi
proses perebusan dilakukan menghilangkan sifat anti protozoa yang berbahaya
bagi tubuh.
4.
Lalu setelah perebusan air perebusan dibuang
kemudian daun katuk akan dihaluskan dengan cara digiling atau ditumbuk baru
direndam air lalu kemudian diperas dan diambil ekstraknya.
5.
Setelah ekstrak daun
katuk telah siap ambil 400 gram tepung terigu, 400 gram margarin atau butter,
200 gram gula apsir, 3 kuning telur, 1 sdt vanili cair, 1 sdt baking powder.
6.
Setelah bahan siap
mula-mula kosok butter, gul, telur dan vanili sampai putih kemudian setelah
dikocok hingga mengembang tambahkan ekstrak daun katuk kental tadi sedikit demi
sedikit.
7.
Terakhir masukkan sedikit
demi sedikit tepung terigu.
8.
Campur sampai kalis,
kemudian bentuk sesuai selera. Setelah itu adonan siap untuk dipanggang.
Waktu pemanggangan cukup sekitar
15-20 menit terhantung besar kesil bentuk adonannya. Upayakan apinya sesuai
dengan kondisi oven , dan jangan terlalu panas.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Daun katuk merupakan sejenis tanaman
sayuran yang banyak terdapat di Asia Tenggara dan memiliki kandungan gizi yang
sangat tinggi. Bukan hanya itu pemilihan daun katuk
didasarkan pula pada kandungan gizi khususnya protein yang cukup tinggi sekitar
6,4% dan kandungan karbohidrat sekitar 9,1. Daun katuk sangat baik digunakan
untuk membuat cemilan cookies karena
kandungan gizi yang dimiliki sangat tinggi dan sangat berguna untuk penderita kwarsiorkor.
B. Saran
Kekurangan dari produk cookies adalah
karena cookies mempunyai rasa yang sangat manis
dan bila dikonsumsi setiap hari
akan mengakibatkan gigi rusak atau karises pada
gigi, selain itu untuk konsumsi daun katuk tidak boleh melebihi 50 gram/hari. Oleh
karena itu, penulisan karya tulis ini sebaiknya dapat dapat dilanjutkan ke tingkat penelitian
sehingga didapatkan proses penyempurnaan dari pengolahan daun katuk menjadi cookies dengan formulasi yang enak, aman
dan dapat diterima masyarakat.
아이비 - thtopbet.com カジノ シークレット カジノ シークレット 우리카지노 마틴 우리카지노 마틴 matchpoint matchpoint 카지노 가입 쿠폰 카지노 가입 쿠폰 planet win 365 planet win 365 카지노 카지노 happyluke happyluke 우리카지노 마틴 우리카지노 마틴 52 Play Spades online for free - Vntopbet
BalasHapusI Found The King Of Dealers
BalasHapusA game company known in Japan for their amazing 3D animation systems kirill-kondrashin and high quality sound 우리카지노 The King of Dealers is an animation platformer game which is